Telusur.co.id -Oleh: Rusydi Umar, Kaprodi S2 Informatika, Universitas Ahmad Dahlan.
Wacana tentang internet murah di Indonesia kembali muncul ke permukaan seiring diluncurkannya program Internet Rakyat. Tidak hadir dengan gebyar janji berlebihan, program ini justru menarik perhatian karena masih berada pada tahap awal dan terbuka untuk ditelaah publik. Dalam konteks kebijakan, fase semacam ini penting. Di sinilah sebuah gagasan seharusnya diuji secara kritis, sebelum berubah menjadi kebijakan mapan yang sulit dikoreksi.
Selama ini, persoalan internet di Indonesia kerap disederhanakan sebagai soal kecepatan. Padahal, bagi sebagian besar warga, problem yang lebih mendasar adalah keterjangkauan dan pemerataan. Di kota-kota besar, internet rumah berbasis fiber optik telah menjadi bagian dari rutinitas. Namun di pinggiran kota dan desa, biaya langganan masih menjadi beban tersendiri. Banyak keluarga akhirnya bergantung pada paket data seluler yang terbatas kuota, tidak selalu stabil, dan kurang memadai untuk kebutuhan belajar daring, kerja jarak jauh, maupun pengembangan usaha kecil.
Internet Rakyat hadir di ruang persoalan itu. Dengan tarif yang diklaim lebih terjangkau dan pendekatan distribusi berbasis Fixed Wireless Access (FWA), program ini tidak memposisikan diri sebagai layanan premium. Narasi yang dibangun lebih mendasar: internet sebagai kebutuhan publik, bukan sekadar komoditas pasar. Pergeseran cara pandang ini penting, karena membawa diskusi keluar dari logika kompetisi kecepatan semata menuju isu aksesibilitas.
Secara teknis, Internet Rakyat memanfaatkan teknologi 5G FWA, yakni layanan internet rumah yang tidak memerlukan penarikan kabel fiber hingga ke rumah pelanggan. Sinyal dipancarkan dari pemancar terdekat dan diterima oleh perangkat modem di sisi pengguna. Model ini memungkinkan pemasangan yang relatif lebih cepat dan berpotensi menekan biaya. Namun, kualitas layanan tetap bergantung pada faktor jarak, kepadatan pengguna, dan kondisi jaringan di wilayah tersebut.
Karena itu, Internet Rakyat tidak bisa dipahami sebagai pengganti total layanan internet yang sudah ada. Internet berbasis fiber masih unggul dalam hal stabilitas dan konsistensi, terutama bagi pengguna dengan kebutuhan tinggi. Melihat Internet Rakyat sebagai ancaman langsung bagi operator lama cenderung menyederhanakan persoalan. Lebih tepat jika ia dibaca sebagai upaya koreksi pasar, terutama untuk segmen masyarakat yang selama ini kurang terlayani.
Di titik inilah nilai strategis Internet Rakyat menjadi relevan. Kehadirannya mengirim pesan bahwa internet murah bukan sesuatu yang mustahil. Selama ini, harga tinggi sering dijustifikasi oleh mahalnya pembangunan infrastruktur. Internet Rakyat menunjukkan bahwa ada alternatif model penyediaan layanan, tanpa harus menyingkirkan pemain lama. Ia membuka ruang pilihan, sekaligus menyeimbangkan relasi antara penyedia layanan dan pengguna.
Namun optimisme ini perlu disertai kewaspadaan. Internet murah tanpa jaminan kualitas berisiko melahirkan masalah baru. Koneksi yang tidak stabil, layanan purna jual yang lemah, atau distribusi yang timpang justru dapat menggerus kepercayaan publik. Tantangan utama Internet Rakyat bukan semata pada besaran tarif, melainkan pada konsistensi kualitas dan keberlanjutan model layanannya.
Di sini peran negara menjadi krusial. Pemerintah perlu memastikan bahwa Internet Rakyat tidak hanya murah di awal, tetapi juga memenuhi standar layanan minimum yang jelas. Transparansi mengenai kecepatan riil, jangkauan layanan, dan mekanisme pengaduan semestinya menjadi bagian dari kebijakan, bukan sekadar materi promosi. Pada saat yang sama, program ini idealnya diposisikan sebagai pelengkap ekosistem internet nasional, bukan pesaing yang diistimewakan secara regulatif.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah literasi digital. Akses yang lebih murah tidak otomatis bermakna jika penggunaannya berhenti pada konsumsi hiburan semata. Tanpa pendampingan dan ekosistem yang mendukung, potensi internet untuk pendidikan, penguatan UMKM, dan layanan publik digital bisa terlewatkan.
Pada akhirnya, masa depan internet murah di Indonesia tidak ditentukan oleh satu program saja. Internet Rakyat adalah langkah awal yang layak diapresiasi, tetapi keberhasilannya bergantung pada tata kelola, pengawasan, dan kesediaan untuk terus dievaluasi. Internet murah bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan akses digital yang adil, bermutu, dan berkelanjutan, agar transformasi digital benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.



