Telusur.co.id - Oleh : Difa Amalia Dude, S.EI., M.SEI.
Ramadhan secara etimologis berakar dari kata ar-ramad, yang berarti panas yang menghanguskan. Secara spiritual, ia adalah kawah candradimuka untuk menghanguskan dosa dan nafsu. Namun, dalam realitas ekonomi makro di Indonesia, Ramadhan justru sering kali menjadi "sumbu" yang membakar kurva inflasi. Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks yang menyesakkan: bulan yang memerintahkan penahanan diri justru menjadi puncak syahwat konsumsi tahunan.
Anatomi Inflasi yang Irasional
Secara logika ekonomi murni, puasa seharusnya menjadi instrumen penekan permintaan (demand). Dengan hilangnya satu waktu makan (siang hari), kurva permintaan pangan secara agregat seharusnya melandai atau setidaknya stabil.
Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) selama satu dekade terakhir menunjukkan pola yang anomali. Kelompok pengeluaran bahan makanan hampir selalu menjadi kontributor utama inflasi (sisi volatile food), dengan andil yang sering kali melompat hingga 0,5% hingga 0,8% (mtm) di bulan suci dan menjelang Idul Fitri.
Kenaikan harga ini bukan semata-mata karena kegagalan distribusi atau kelangkaan pasokan, melainkan karena perilaku konsumen yang irasional. Fenomena panic buying dan budaya "balas dendam" saat berbuka puasa menciptakan tekanan permintaan yang masif dalam waktu singkat.
Uang beredar di masyarakat melonjak tajam, sering kali di atas 10%, namun sayangnya, likuiditas ini lebih banyak terserap untuk konsumsi jangka pendek yang habis di meja makan, bukan untuk investasi produktif yang menyejahterakan.
Israf: Dosa Sosial di Balik Struk Belanja
Dalam perspektif teologis, perilaku konsumtif yang memicu inflasi ini adalah bentuk pelanggaran nyata terhadap esensi ibadah. Al-Qur’an dalam Surah Al-A'raf ayat 31 memberikan batasan yang tegas:
“...makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Kata Israf (berlebih-lebihan) dalam ayat tersebut bukan sekadar nasehat kesehatan, melainkan peringatan tentang keadilan sosial. Ketika sebuah keluarga Muslim memborong stok pangan melebihi kebutuhan riilnya, mereka secara kolektif sedang menaikkan titik keseimbangan harga di pasar.
Akibatnya, kelompok masyarakat miskin yang pendapatannya tidak naik; seiring inflasi, terpaksa membayar lebih mahal untuk kebutuhan pokok mereka, atau bahkan kehilangan akses terhadapnya.
Di sinilah letak ironinya: ibadah privat kita (puasa) secara tidak langsung menjadi beban ekonomi bagi orang lain. Jika kita gagal mengendalikan belanja, maka puasa kita gagal menjadi Imsak (menahan diri) dan justru terjebak dalam lingkaran Tabzir (pemborosan), yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai "saudara setan" (QS. Al-Isra': 27).
Mengembalikan Kedaulatan "Imsak"
Sudah saatnya kita mengubah narasi Ramadhan dari sekadar "pesta kuliner berpindah jam" menjadi gerakan kedaulatan pangan. Ada tiga langkah reflektif yang bisa kita ambil:
Pertama, Puasa Pasar. Umat muslim harus menyadari bahwa, kekuatan tawar mereka sangat besar. Jika jutaan rumah tangga secara sadar mengurangi volume belanja sebesar 20-30% (setara porsi makan siang yang ditiadakan), tekanan inflasi akan rontok dengan sendirinya tanpa perlu operasi pasar yang represif dari pemerintah.
Kedua, Moralitas Konsumsi. Meja makan saat berbuka harus dikembalikan pada fungsinya sebagai sarana syukur, bukan ajang pamer kemewahan. Kesederhanaan dalam memilih menu berbuka adalah bentuk solidaritas nyata bagi saudara-saudara kita yang masih berjuang di bawah garis kemiskinan.
Ketiga, Realokasi Surplus. Dana yang biasanya "terbakar" untuk menu berbuka yang berlebihan atau pakaian yang tidak mendesak, seharusnya dialihkan sepenuhnya ke dalam instrumen zakat, infak, dan sedekah produktif. Ekonomi akan jauh lebih sehat jika uang mengalir untuk memberdayakan usaha mikro daripada habis tertimbun di tempat sampah dalam bentuk sisa makanan (food waste).
Renungan Penutup
Ramadan adalah ujian bagi kedaulatan diri atas keinginan. Jika kita mampu menahan lapar selama 13 jam tetapi gagal menahan jempol dari godaan belanja daring atau gagal menahan nafsu saat di pasar swalayan, maka mungkin kita baru sekadar mendapatkan lapar dan dahaga, sebagaimana peringatan Rasulullah SAW.
Menekan inflasi di bulan Ramadan adalah jihad ekonomi. Ia dimulai dari piring kita sendiri. Pertanyaannya: apakah Ramadan kita tahun ini akan memperberat beban statistik ekonomi bangsa, atau justru menjadi oase kesederhanaan yang menyejukkan pasar dan menyelamatkan sesama?
*Penulis adalah Pengamat Ekonomi, Dosen Institut Agama Islam Daruttaqwa (INSIDA) Gresik, dan Putri Asli Gorontalo.



