Pakar Obgyn UNAIR Ungkap Bahaya Pijat Perut pada Organ Reproduksi Wanita - Telusur

Pakar Obgyn UNAIR Ungkap Bahaya Pijat Perut pada Organ Reproduksi Wanita

Ilustrasi pijat tradisional pada wanita (doc: IStock)

telusur.co.id - Meski berada di era modern, pijat masih menjadi metode penyembuhan favorit di kalangan masyarakat desa, khususnya pijat perut.  Termasuk banyak perempuan yang memanfaatkan pijat untuk mengatasi kengser dan beser. Padahal, pijat perut bukan solusi pengobatan kengser dan beser. Selain tidak tepat, bahkan mungkin bisa berbahaya.
 
Kengser alias rahim turun atau dalam medis disebut prolaps uteri. Umumnya, gejala ini disertai dengan kondisi sistokel atau penurunan kandung kemih dan rektokel atau penurunan rectum. Sedangkan beser atau inkontinensia urin, biasanya menggambarkan keluhan keinginan buang air kecil secara terus menerus.
 
Penyebab Prolaps Uteri dan Inkontinensia Urin
 
Pakar Obgyn Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Eighty Mardiyan K dr SpOG Subsp Urogin RE menjelaskan, prolaps uteri dan inkontinensia urin adalah dua kondisi yang terjadi akibat kelemahan atau kerusakan pada dasar panggul. 

Menurutnya, penyebab terbanyak dari kondisi ini adalah proses persalinan pervaginam yang sulit dan kehamilan berulang. Selain itu, juga dipengaruhi oleh beberapa permasalahan, seperti kegemukan, menopause, faktor genetik dan pekerjaan yang menyebabkan tekanan perut meningkat. Seperti pekerjaan angkat beban berat.
 
“Tidak semua persalinan normal menyebabkan kelemahan dan kerusakan dasar panggul. Tetapi ada beberapa persalinan yang berisiko yang dapat menyebabkan robekan pada vagina. Misalnya, ukuran bayi sangat besar, proses mengejan yang lama, hingga persalinan dengan alat vakum atau forsep,” papar Prof Eighty kepada Unair News. Rabu, (24/4/2024).
 
Bila robekan itu tidak terjahit dengan baik dan tidak kembali seperti semula, sambungnya, maka fungsi dasar panggul tidak bisa normal kembali. Bahkan dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada rahim, kandung kemih, dan rektum.
 
“Permasalahan ini dapat menyebabkan rahim, kandung kemih, dan rektum akan menonjol ke vagina bahkan sampai keluar vagina. Perempuan juga akan sulit menahan buang air kecil, buang air besar, buang angin, bahkan hubungan seksual ikut terganggu,” sambungnya.
 
Pijat bukan Solusi
 
Prof Eighty juga menuturkan bahwa pijat bukanlah metode yang efektif. “Pijat perut tidak akan menguatkan dasar panggul, apalagi otot dan jaringan ikat. Mungkin orang awam menganggap pijat akan mengembalikan posisi rahim dan kandung kemih yang turun. Tapi selama dasar panggul masih lemah, maka rahim dan kandung kemih akan turun kembali. Kengser dan beser tetap terjadi,” ujarnya.
 
Ia mengatakan, pijat perut bukan hal yang dianjurkan di dunia medis, khususnya dokter kandungan dan dokter bedah. Dalam kasus keluhan nyeri perut, sambungnya, pijat tidak dapat mengatasi.
 
“Untuk mengetahui penyebab nyeri, perlu dilakukan pemeriksaan. Terdapat banyak organ dalam perut yang tidak dapat dilihat langsung oleh tukang pijat. Seperti rahim, ovarium, saluran telur, kandung kemih, dan usus. Sementara di bagian atas perut, terdapat lambung, kantung empedu, limpa, dan hati,” ungkapnya.
 
“Justru pijat perut dapat menyebabkan tekanan pada organ tersebut, bahkan menimbulkan perlekatan hebat pada kasus endometriosis atau infeksi perut,” tutur dokter obgyn UNAIR itu.
 
Lebih lanjut, Prof Eighty memaparkan dampak negatif dari pijat perut yang berbahaya. “Pada kasus kista ovarium, dapat pecah. Pada kasus kembung akibat gerak usus yang tidak lancar, pijat juga dapat menyebabkan usus mengalami perlekatan hingga robekan. Kondisi ini bahkan dapat menjadi indikasi pembedahan untuk menyelamatkan nyawa,” sambungnya.

Pada kasus kengser dan beser yang tidak terlalu parah, Prof Eighty menganjurkan untuk melakukan senam kegel. 

“Senam kegel dengan cara yang tepat dan benar. Karena senam kegel akan membantu menguatkan otot dasar panggul sehingga fungsinya kembali normal,” tukasnya. Pada kondisi yang berat, pemasangan pesarium atau operasi menjadi tata laksana pilihan. (aid/ari)


Tinggalkan Komentar