Hari Musik Sedunia, Dosen UNAIR Soroti Peran Musik sebagai Identitas Budaya - Telusur

Hari Musik Sedunia, Dosen UNAIR Soroti Peran Musik sebagai Identitas Budaya

Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Puji Karyanto, S.S., M.Hum.

telusur.co.id -Musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, pendidikan, hingga tradisi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Puji Karyanto, S.S., M.Hum., dalam momentum peringatan Hari Musik Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni.

Menurut Puji, musik telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kehadirannya tidak hanya sebagai media ekspresi diri, tetapi juga memiliki fungsi yang melekat dalam berbagai aspek kehidupan.

“Musik dapat digunakan untuk semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia, misalnya aspek pendidikan, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Sebagai contoh apabila ada orang yang menikah pasti memerlukan musik bahkan orang yang meninggal juga membutuhkan musik,” ungkapnya.

Ia menilai peringatan Hari Musik Sedunia menjadi momentum penting untuk mengingat kembali relevansi musik di tengah perkembangan teknologi dan era digital yang terus berkembang.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara musik diciptakan, diproduksi, didistribusikan, dipromosikan, hingga dikonsumsi oleh masyarakat. Menurut Puji, hadirnya berbagai platform digital membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkarya.

“Semua orang dapat menciptakan dan memproduksi musik dengan kemudahan akses. Orang dapat menerbitkan dan menyebarkan apa yang mereka ciptakan,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berbeda dengan era sebelumnya ketika proses produksi musik sangat bergantung pada label rekaman besar. Saat ini, kemajuan teknologi memungkinkan musisi independen untuk menghasilkan karya secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Dahulu, proses perekaman memakan waktu lama dan harus dilakukan di label besar. Sekarang ada indie, bahkan soundcard sangat murah dan mudah diakses. Kita bisa membeli soundcard sendiri, rekaman sendiri, dan mengunggahnya ke platform kita,” imbuhnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah menciptakan ekosistem yang lebih inklusif bagi para pelaku industri musik, sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi kreativitas masyarakat.

Merawat Musik sebagai Identitas Budaya

Di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi, Puji menilai masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi, yakni menjaga keberlangsungan ekosistem musik nasional sekaligus merawat musik sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

Ia mendorong generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk tidak hanya menjadi penikmat musik, tetapi juga berperan sebagai kreator yang mampu menghadirkan inovasi melalui perpaduan musik tradisional Indonesia dengan genre modern.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi salah satu upaya menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap relevan di tengah arus globalisasi dan perkembangan industri kreatif.

Lebih jauh, Puji menegaskan bahwa peringatan Hari Musik Sedunia seharusnya dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai perayaan seni atau hobi semata, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap peran musik dalam pendidikan, politik, sosial, dan budaya.

“Dalam momentum perayaan Hari Musik Sedunia, kita tidak boleh hanya menjadi pelengkap tetapi kita juga harus berperan aktif dalam perayaan yang ada,” pungkasnya.

Melalui momentum Hari Musik Sedunia, masyarakat diharapkan semakin menyadari bahwa musik bukan sekadar sarana hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Tinggalkan Komentar