Inovasi Kebijakan dan Ekonomi Digital Diyakini Bisa Mempercepat Kemajuan Desa - Telusur

Inovasi Kebijakan dan Ekonomi Digital Diyakini Bisa Mempercepat Kemajuan Desa


telusur.co.id — Pembangunan desa cerdas berbasis digital dapat membuka berbagai peluang yang ada serta mendorong kemajuan desa.

Wakil Sekretaris PWNU DIY 2022-2027, Muhammad Mustafid mengungkapkan, beberapa inovasi digital untuk pembangunan desa, bisa dimulai dengan arah kebijakan digitalisasi desa. Seperti, digitalisasi penyusunan database bagi desa-desa yang berbasis Big Data. Hal ini untuk mendukung pelaksanaan pembangunan, monitoring, pengawasan dan evaluasi pengembangan desa.

"Termasuk ekonomi digital, dalam mendukung pendataan potensi unggulan desa dan kerjasama e-commerce masuk desa. Kemudian, inovasi digitalisasi pelayan agar bisa mempercepat pelayanan pemerintah desa kepada warga desa," kata Mustafid dalam diskusi daring #MakinCakapDigital, Kemenkominfo berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi bertajuk "Inovasi Digital Untuk Kemajuan Desa/Kelurahan" pada Selasa (1/8/22).

Menurut dia, dengan inovasi digital, juga dimungkinkan untuk peningkatan transparansi keuangan dan kegiatan pembangunan desa. Karena, seluruh warga bersama-sama mengetahui roadmap dari pembanguan desa nya.

"Termasuk memudahkan Pemerintah Desa dalam menyerap aspirasi dan menerima pengaduan dari warganya," kata Mustafid, yang juga pengasuh pesantren mahasiswa Aswaja Nusantara Mlangi Sekretaris Nur Iman Foundation Yogyakarta itu.

Sementara, Wakil Rektor IV Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, Lestari Nurhajati menilai, pemanfaatan digital untuk memajukan desa, sangat didukung oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Sebab, UU Desa telah memberi kewenangan besar bagi pembangunan desa. 

"Ini peluang untuk memanfaatkan aset lokal, dalam menghadapi tantangan desa (Kemiskinan, kerbatasan lapangan kerja, dan lain-lain). Juga munculnya gerakan-gerakan warga aktif yang menginisasi lahirnya inovasi-inovasi di tingkat lokal. Contoh, yang paling kuat adalah inisiatif mendirikan BUM Desa," kata Lestari. 

Terkait dengan ekonomi digital dalam memajukan desa, Lestari menjelaskan, berdasarkan data we are social 2021, dari jumlah penduduk Indonesia 274,9 juta, sebanyak 202,6 juta pengguna internet, 345,3 juta koneksi mobilitas aktif. Kemudian, 170 juta pengguna media sosial.

Selanjutnya, selama 8 jam 52 menit wakut untuk penggunaan internet, 3 jam 14 menit waktu penggunaan medsos.

"78,2% penduduk menggunakan perangkat digital untuk belanja, 96,5% menggunakan perangkat digital untuk chating, 96,3% menggunakan perangkat digital untuk akses medsos," tutur Lestari.

Artinya, lanjut Lestari, ini merupakan peluang bagi UMKM di Desa untuk memanfaatkan ruang digital dalam promosi. Dampaknya, akan menambah pendapatan ekonomi di desa.

Apalagi, data juga menyebutkan, sebanyak 64 juta jumlah UMKM di Indonesia (per Februaru 2021), lebih dari 12 juta UMKM menggunakan e-commerce.

"Harus ingat, UMKM menyerap 97% tenaga kerja (data 2020), dan UMKM juga menyumbang 61,07% PDB Nasional," kata dia.

Manager Program Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta, Misbachul Munir menambahkan, yang perlu diperhatikan pelaku UMKM di Desa ialah memastikan keamanan data digital saat bertransaksi di marketplace. 

Caranya, pastikan keamanan dari gawai dan media digital yang dipunyai termasuk media sosial dan aplikasi perpesanan dengan menggunakan password yang kuat 

"Jaga data pribadi kita tetap aman dan jangan bagikan dengan siapapun, termasuk di media sosial. Selalu waspada akan tautan tak dikenal, jangan buka file atau tautan yang tidak dikenal yang dikirimkan lewat email, media sosial atau aplikasi chatting. Dan, jangan merespon panggilan telepon dan pesan yang ujungnya meminta data pribadi atau password/PIN," kata Misbachul 

Misbachul mengingatkan bahwa tidak ada yang aman 100% di dunia digital. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi risikonya sedapat mungkin.

"Keamanan berbanding terbalik dengan kemudahan, sedikit ribet dan waspada akan membuat kita lebih aman di dunia digital. Selalu berpikir kritis, tidak mudah percaya dengan semua yang kita dapat di internet," kata Misbachul.

Informasi lebih lanjut dan acara literasi digital GNLD Siberkreasi dan #MakinCakapDigital lainnya, dapat mengunjungi info.literasidigital.id dan mengikuti @siberkreasi di sosial media.[Fhr] 


Tinggalkan Komentar