Internet Bisa Jadi Bencana Jika Netizen Tak Menerapkan Etika - Telusur

Internet Bisa Jadi Bencana Jika Netizen Tak Menerapkan Etika


telusur.co.id -  Dunia digital sama seperti di dunia nyata. Keduanya membutuhkan standar etika yang sama agar memberi manfaat, pikiran positif dan kreatif. Tujuannya akan sangat berguna bagi pengguna media digital.

Content Creator Ceritasantri.id & Media PW Fatayat NU DI. Yogyakarta 'Aina Masrurin menjelaskan, interaksi dan komunikasi dalam ruang digital, pastinya dengan orang yang berbeda kultural. Interaksi antar budaya dapat menciptakan standar baru tentang etika. 

"Dengan media digital setiap warganet berpartisipasi dalam berbagai hubungan dengan banyak orang melintasi geografis dan budaya," kata 'Aina dalam diskusi #MakinCakapDigital Kemenkominfo berkolaborasi dengan Siberkreasi bertajuk "Menjadi Pengguna Internet yang Beradab" pada Selasa (25/10/22). 

Untuk itu, menurut 'Aina, segala aktivitas digital memerlukan etika digital maupun netiket. Yaitu tata krama dalam menggunakan internet yang harus selalu menyadari bahwa pengguna berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan yang lain. 

"Bukan sekedar dengan deretan karakter huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia sesungguhnya," tegasnya. 

Bagi dia, etika digital ditawarkan sebagai pedoman menggunakan berbagai platform digital secara sadar, tanggung jawab, berintegritas, dan menjunjung nilai-nilai kebajikan antar insan dalam menghadirkan diri, kemudianberinteraksi, berpartisipasi, bertransaksi, dan berkolaborasi dengan menggunakan media digital.

Koordinator Media dan Publikasi Seknas Jaringan GUSDURian Heru Prasetia menambahkan, pengguna internet terus mengalami kenaikkan setiap tahunnya. Laporan We Are Social mencatat sekitar 73,7% dari total populasi penduduk Indonesia terhubung dengan internet.

Laporan itu juga memaparkan, pengguna internet rata-rata menghabiskan waktu hampir 9 jam perhari.

Heru berharap, setiap pengguna internet mampu menyeleksi dan memverifikasi informasi yang didapatkan. 

"Serta menggunakannya untuk kebaikan diri dan sesama," kata Heru.

Sementara itu, Ketua Umum LESBUMI PBNU M. Jadul Maula menyatakan, tanpa kecakapan yang benar, bertanggung jawab dan berbudaya, teknologi digital bisa menjadi faktor perusak bangsa dan karakter manusia. 

Jadul berharap ada kedaulatan budaya Indonesia dalam bermedsos. Yang mana, melalui teknologi digital bisa menjadi lebih memahami, mengamalkan dan mewujudkan nilai-niilai Pancasila dan tujuan Kebangsaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. 

Jalannya, Pancasila harus dikomunikasikan sebagai ilmu dan nalar yang berakar di dalam agama dan budaya yang memandu warga bangsa untuk berpikir dan bertindak. Sehingga mampu mewujudkan tujuan kemaslahatan bersama sebagai individu, masyarakat dan bangsa. 

"Pengamalan Pancasila juga membutuhkan keteladanan. Dunia Digital adalah dunia kita sekarang ini. Mari mengisinya dan menjadikannya sebagai ruang yang berbudaya, tempat kita belajar dan berinteraksi, tempat anak-anak kita bertumbuhkembang, sekaligus tempat di mana kita sebagai bangsa, hadir dengan bermartabat," kata Jadul. 

Informasi lebih lanjut dan acara literasi digital GNLD Siberkreasi dan #MakinCakapDigital lainnya, dapat mengunjungi info.literasidigital.id dan mengikuti @siberkreasi di sosial media.[Fhr

 

 


Tinggalkan Komentar