John Herdman Ungkap Grup Kepemimpinan Jadi Fondasi Terkuat Timnas Indonesia - Telusur

John Herdman Ungkap Grup Kepemimpinan Jadi Fondasi Terkuat Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman pada laga kontra Bulgaria di FIFA Series 2026 di SUGBK, Jakarta, Senin (30/3). Foto: Telusur.co.id/Fahmi Abdushshofi.

telusur.co.id -Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan pujian mendalam terhadap perkembangan internal skuad Garuda. Sejak ditunjuk pada Januari lalu menggantikan Patrick Kluivert, pelatih asal Inggris tersebut menilai bahwa Timnas Indonesia saat ini memiliki potensi besar yang didukung struktur kepemimpinan yang solid baik di dalam dan di luar lapangan.

Herdman mengungkapkan bahwa apa yang ia saksikan dalam proses kepelatihannya di tim Merah Putih sejauh ini merupakan awal dari sesuatu yang besar bagi sepak bola Indonesia. Menurutnya, aspek budaya dan kepemimpinan menjadi kunci utama transformasi tim.

Apalagi, kegagalan besar menuju Piala Dunia 2026 tentu masih membekas bagi seluruh punggawa timnas Indonesia.

Hal ini diungkapkan usai anak asuhnya harus mengakui kekalahan dari Bulgaria 0-1 dalam final FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

"Ya, begini, saya rasa kelompok ini punya potensi yang sangat besar. Potensi yang nyata. Menurut saya, kita baru saja memulai apa yang saya lihat selama ini," ujar John Herdman kepada awak media pada konferensi pers usai laga, Senin (30/3).

Secara khusus, Herdman menyoroti keberadaan figur-figur pemimpin di dalam tim. Ia lantas menyebut nama-nama seperti Jay Idzes, Kevin Diks, Joey Pelupessy, Calvin Verdonk, Rizky Ridho, hingga Emil Audero disebut sebagai pilar penting yang membentuk karakter kolektif tim.

"Jay Idzes adalah pemain yang fenomenal. Kevin Diks, Pelupessy, Verdonk, Rizky Ridho, Emil Audero, mereka ada di dalam grup kepemimpinan. Maksud saya, grup kepemimpinan mereka sangat solid. Kita punya inti tim yang sangat kuat," jelas eks pelatih Timnas Kanada tersebut.

Baginya, para pemain ini bukan sekadar pemimpin di atas kertas, melainkan sosok yang mampu menggerakkan tim melalui aksi nyata dalam perilaku khususnya di camp timnas Indonesia.

"Secara budaya, saya pikir kita punya beberapa pemimpin yang kuat. Pemimpin sejati. Orang-orang yang tidak hanya sekadar bicara, tapi membuktikannya dengan tindakan. Dan saya rasa itu sangat penting," tambahnya.

Herdman juga menceritakan bagaimana kedisiplinan skuad Garuda terlihat dari inisiatif para pemain bahkan sebelum pemusatan latihan (TC) dimulai. Herdman membeberkan bahwa para pemain rutin melakukan pertemuan virtual untuk menyamakan visi mengenai tanggung jawab membela panji Garuda di dada.

"Mereka melakukan pertemuan via Zoom sebelum datang ke pemusatan latihan, menghabiskan waktu berjam-jam saat kita melakukan persiapan," lanjutnya.

Selain faktor kepemimpinan, Herdman juga mengaku terkesan dengan karakter masyarakat Indonesia yang tercermin dalam diri para pemain. Energi positif, semangat hidup, dan keramahan rakyat Indonesia dinilai sangat cocok dengan kepribadiannya.

"Saya sangat terkesan dengan energi masyarakatnya, hanya dengan melihat orang-orang di jalanan saja. Itu sangat istimewa. Namun para pemain adalah cerminan dari rakyatnya. Masyarakat Indonesia punya semangat hidup yang luar biasa, jiwa yang sangat bahagia."

"Mereka menikmati hidup, mereka tersenyum, mereka tertawa. Dan saya menikmatinya, ini cocok dengan kepribadian saya, cocok dengan apa yang ingin saya bawa ke sini," jelas eks pelatih Toronto FC tersebut.

Sementara itu dari sisi teknis, Herdman melihat adanya keunggulan kompetitif yang dimiliki Indonesia dibandingkan negara lain di level AFC, yaitu kedisiplinan taktis.

"Ada beberapa pekerjaan internasional lain yang sempat saya pertimbangkan. Namun saya berpikir bahwa kesadaran taktis dan disiplin grup ini akan menjadi "X-factor" di AFC. Kami memiliki beberapa pemain yang sangat cerdas," ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Herdman menekankan bahwa harmonisasi antara pemain lokal dan pemain diaspora kini semakin cair. Hal ini menjadi modal utama bagi Timnas Indonesia untuk melangkah lebih jauh di level Internasional khususnya dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2030.

"Apa yang saya lihat adalah pemain lokal dan pemain diaspora, mereka menjadi semakin dekat secara taktis maupun budaya," tutupnya.


Tinggalkan Komentar