telusur.co.id - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, harga kedelai impor Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh masalah El Nina di kawasan Amerika Selatan. Naiknya harga ini jugaa juga dipicu oleh kebutuhan besar pakan ternak babi di China. Sebanyak lima babi baru di China diberi pakan kedelai.
"Awalnya peternakan babi uang tak makan kedelai, sekarang (babi di China) makan kedelai. Jadi demand sangat tinggi," ujar Lutfi dikutip dari Antara, ditulis Minggu (20/2/22).
Lutfi berjanji akan melakukan mitigasi untuk masalah ini. Dia menuturkan kebutuhan kedelai dalam negeri mencapai 3 juta ton.
Namun, budidaya di Tanah Air hanya mampu memproduksi 500.000-700.000 ton per tahunnya.
Lutfi menerangkan jika saat ini pihaknya sementara menyiapkan mitigasi dari melambungnya harga kedelai secara nasional.
"Sekarang ini kami sedang menyiapkan mitigasinya dan kesempatan pertama minggu depan akan kami umumkan kebijakannya seperti apa," katanya.
Dikutip dari the Pig Site, kedelai berjangka China melonjak ke rekor tertinggi minggu ini di tengah kekhawatiran tentang skala panen kedelai Amerika Selatan yang dilanda kekeringan dan pengetatan pasokan makanan di pasar domestik.
Kenaikan harga kedelai, bahan protein utama dalam pakan ternak, dapat mengangkat biaya produksi bagi peternak babi China yang sudah berjuang dengan kerugian besar, dan mungkin mendorong beberapa untuk keluar dari pasar, menurut para pedagang dan analis.
Kontrak kedelai berjangka yang paling aktif diperdagangkan di Dalian Commodity Exchange menguat menjadi 3.792 yuan (US$596.22) per ton minggu ini, rekor harga tertinggi, dan naik 13 persen dari sebelum liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu.
"Impor kedelai pada semester kedua tahun lalu rendah, dan importir menunggu margin membaik," kata Darin Friedrichs, salah satu pendiri perusahaan riset pertanian Sitonia Consulting.
"Tapi sekarang ada masalah produksi. Kontrak berjangka AS telah banyak mengalami reli, dan Dalian sedang mengejar ketinggalan," kata Friedrichs.[Fhr]



