telusur.co.id - Oleh : Singky Soewadji
Pemerintahan Presiden Prabowo gencar membuka lahan yang tentunya sebagian besar adalah hutan untuk Program Ketahanan Pangan.
Jutaan hektar hutan di babat dengan dalih kepentingan nasional Daulat Pangan.
Hasil belum tampak tapi bencana alam datang duluan tanpa permisi.
Ratusan triliun uang rakyat berupa APBN di glontorkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang prakteknya menjadi Maling Berkedok Gizi (MBG) dan akibatnya meenjadi Makan Beracun Gratis (MBG).
Negara tetangga Australia selama ini di sibukkan oleh over populasi Kerbau, Unta, Kelinci dan Kanguru liar yang menjadi hama merusak lingkungan di Australia.
Kerbau di Australia :
Kerbau di Australia adalah keturunan Kerbau Asia (didatangkan dari Indonesia pada 1800-an) yang hidup liar di wilayah utara (Top End). Dengan populasi mencapai ratusan ribu, mereka dianggap sebagai hama invasif yang merusak lingkungan.
Diperkenalkan oleh pemukim Inggris dari Indonesia (Timor, Jawa) pada awal abad ke-19 sebagai sumber pangan, lalu dilepaskan/lolos ke alam liar pada tahun 1849. Populasi dan Habitat: Terkonsentrasi di wilayah Northern Territory (Arnhem Land, Melville Island), terutama di lahan basah dan rawa-rawa.
Status Hama Invasif karena Kerbau liar merusak lanskap, menghabiskan vegetasi asli, dan menyebabkan erosi tanah, yang mengancam ekosistem lokal, karena tidak memiliki predator di alam, sementara kebutuhan daging untuk penduduk Australia sudah berlimpah dari Sapi dan Domba.
Pemerintah Australia melakukan pemusnahan (culling) berkala untuk mengendalikan populasi mereka yang tidak terkendali. Kerbau Australia sering kali berukuran lebih besar daripada kerbau di Asia karena faktor nutrisi dan lingkungan yang mendukung.
Unta di Australia :
Australia memiliki populasi unta liar (feral camel) terbesar di dunia, dengan jumlah diperkirakan lebih dari 1 juta ekor pada tahun 2023. Didatangkan pada 1840-an untuk transportasi, Unta kini hidup liar di pedalaman (outback) dan dianggap hama karena merusak infrastruktur, memakan tanaman, dan bersaing memperebutkan sumber air.
Sejarah Unta pertama kali didatangkan dari Kepulauan Canary pada Oktober 1840 untuk membantu eksplorasi dan transportasi di pedalaman Australia yang kering.
Meskipun bukan hewan asli, populasi Unta liar di Australia melebihi populasi di negara-negara Arab, menjadikan Australia pemilik populasi Unta liar terbesar di dunia.
Penyebab Liar karena setelah kendaraan bermotor menggantikan peran mereka, ribuan Unta dilepaskan ke alam liar dan berkembang biak pesat.
Populasi yang tak terkendali dan tidak adanya predator alam, sementara kebutuhan daging bagi penduduk sudah berlimpah dari Sapi dan Domba. Ini akhirnya menimbulkan kerusakan lingkungan dan infrastruktur.
Pemerintah Australia melakukan pemusnahan (penembakan) untuk mengendalikan populasi. Namun, sebagian Unta liar juga dimanfaatkan untuk ekspor (daging/hidup) dan pariwisata.
Kelinci di Australia :
Kelinci di Australia, khususnya jenis kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus), adalah spesies invasif yang menjadi hama lingkungan dan pertanian serius sejak diperkenalkan pada abad ke-18.
Populasi mereka yang meledak menyebabkan kerusakan vegetasi dan erosi tanah. Berbagai metode pengendalian, seperti virus myxoma dan RHDV, telah digunakan untuk menekan populasi.
Diperkenalkan pada abad ke-18 dan menyebar luas akibat dilepasliarkan oleh Thomas Austin, populasi mereka meningkat secara signifikan karena berkembang biak dengan sangat cepat.
Dampak Lingkungan & Ekonomi, Kelinci liar dianggap hama termahal, menyebabkan kerugian jutaan dolar per tahun, merusak tanaman, dan mengancam keanekaragaman hayati.
Upaya Pengendalian Pemerintah Australia membangun pagar anti-kelinci (rabbit-proof fence) dan menggunakan metode biologis seperti virus, serta racun untuk mengendalikan populasi.
Kelinci Peliharaan di beberapa negara bagian Australia seperti Queensland, memelihara kelinci sangat dilarang.
Kelinci Australia di Indonesia istilahnya "Kelinci Australia" sering merujuk pada jenis kelinci pedaging berukuran besar yang dibudidayakan karena produktivitasnya tinggi, mampu melahirkan 6-10 ekor dalam satu periode.
Kanguru Liar di Australia :
Kanguru liar di Australia sangat melimpah, dengan populasi diperkirakan mencapai 50 juta ekor pada 2024, melebihi jumlah manusia.
Mereka tersebar luas di habitat alami seperti padang rumput, hutan, dan pinggiran kota.
Kanguru liar ditemukan hampir di seluruh Australia, termasuk di Kangaroo Island.
Karena jumlahnya yang sangat banyak dan berpotensi merusak lingkungan, pemerintah Australia melakukan kontrol populasi.
Diburu untuk dimanfaatkan kulitnya untuk bahan topi dan ikat pinggang, dagingnya di konsumsi walau jumlahnya tidak banyak, selebihnya untuk pakan hewan carnivora di kebun binatang.
Seandainya pejabat pemerintah Indonesia bisa berpikir sehat, problem negara tetangga ini bisa di manfaatkan sebagai kebutuhan Ketahanan Pangan dan tidak butuh lagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keempat jenis hewan yang over populasi di Australia yang di anggap hama ini, layak di konsumsi di Indonesia dan bersifat halal.
Pemerintah Indonesia tinggal duduk ngopi dengan pemerintah Australia sambil ngobrol.
Libatkan Menteri Luar Negeri, Menteri Pertanian yang membawahi Dirjen Peternakan, Menteri Kehutanan karena ada kategori satwa liar dan Menteri Pertahanan di butuhkan karena untuk mengangkut menggunakan kapal perang atau pesawat Hercules.
Bila terealisasi maka kebutuhan pangan dan bergizi terpenuhi, pemerintah tidak perlu mengalokasikan anggaran ratusan trilun, dan yang terpenting hutan tidak perlu dikorbankan, kecuali memang punya modus lain.
*Penulis adalah Pemerhati satwa liar dan Koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI).



