telusur.co.id -Industri perhotelan di Jawa Timur mulai menunjukkan langkah konkret menuju pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub meluncurkan gerakan bertajuk Beyond Waste pada Kamis (4/6/2026).
Gerakan ini berfokus pada pengelolaan limbah makanan (food waste) menjadi produk bernilai guna, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular (circular economy).
Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama dan Mercure Surabaya Grand Mirama, Sugito Adhi, menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan lingkungan melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan sustainability yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujar Sugito.
Ia menambahkan bahwa gerakan tersebut diharapkan dapat membuka pemahaman baru mengenai potensi limbah organik yang selama ini kurang dimanfaatkan.
“Gerakan ini bukan hanya tentang pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dari pengolahan food waste, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja baru, sementara industri dapat membangun kemandirian material melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” jelasnya.
Di tingkat operasional, Grand Mercure Malang Mirama telah menerapkan pembatasan ketat terhadap produksi sampah makanan sejak hotel mulai beroperasi pada 2021, sejalan dengan standar jaringan hotel global Accor.
Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, menjelaskan bahwa jumlah limbah makanan sangat bergantung pada tingkat hunian hotel, terutama pada layanan sarapan yang menjadi penyumbang terbesar.
"Jika kuota sarapan berada di angka 250, sampah yang dihasilkan berkisar antara 8 hingga 10 kilogram. Namun, saat hunian melonjak hingga 400 atau 500, volume sampah makanan ikut naik ke angka 13 sampai 15 kilogram," papar Wahyu.
Ia menambahkan bahwa hotel menerapkan batas maksimal limbah makanan harian sebesar 15 kilogram sesuai standar baseline dari Accor. Upaya pengurangan dilakukan melalui langkah preventif dan pengolahan ulang (upcycling) di area dapur.
Roti yang tidak terpakai, misalnya, diolah kembali menjadi hidangan penutup khas Timur Tengah, Om Ali, untuk menu sarapan hari berikutnya. Buah stroberi yang masih layak konsumsi namun tidak sempurna secara tampilan juga diolah menjadi selai. Sementara sisa makanan yang tidak dapat dikonsumsi dialihkan menjadi pupuk kompos dan pakan ternak.
Dari sisi kolaborator, Founder Local Preneur, Baskoro, menyampaikan dukungan terhadap perubahan paradigma industri dalam mengelola dampak lingkungan.
"Kami mendukung penuh para pelaku industri untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya. Langkah yang diambil tidak harus selalu muluk-muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu," tegas Baskoro.
Ia menekankan bahwa dunia usaha perlu mulai menggeser orientasi dari sekadar keuntungan menuju tanggung jawab sosial dan lingkungan.
"Jadi, bisnis tidak hanya melulu bicara tentang untung dan rugi, namun juga wajib menaruh perhatian dan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan," tambahnya.
Sementara itu, kalangan akademisi menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam mendorong kesadaran lingkungan lintas sektor. Pakar lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah secara tepat.
"Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu dan merusak lapisan atmosfer," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa limbah organik memiliki potensi pemanfaatan luas, mulai dari pakan ternak hingga pupuk pertanian.
Dr. Tri Ida juga menyoroti peluang ekonomi dari pengelolaan limbah di kawasan Malang Raya.
"Ekonomi masyarakat saat ini membutuhkan inovasi. Pemanfaatan limbah yang tadinya tidak memiliki nilai guna, jika kita olah dengan baik, akan memberikan nilai ekonomis tinggi yang justru menjadi sumber pendapatan (income) baru bagi masyarakat maupun pelaku industri itu sendiri," tambahnya.
Peluncuran Beyond Waste yang melibatkan sekitar 50 peserta dari sektor perhotelan, UMKM kuliner, akademisi, dan organisasi non-pemerintah tersebut juga diisi dengan talkshow keberlanjutan, diskusi ESG, hingga demonstrasi pengolahan limbah menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.
Mengusung visi “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time”, gerakan ini menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat hingga 95 persen serta pengurangan limbah makanan hingga 80 persen.
Inisiatif ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.



