telusur.co.id - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mendesak Uni Eropa untuk menggunakan instrumen perdagangan terkuatnya, termasuk mekanisme anti-koersi atau yang dikenal sebagai “bazoka perdagangan”, untuk merespons ancaman tarif baru dari Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Selasa (20/1). Menurut Macron, Amerika Serikat telah menerapkan perjanjian perdagangan yang merugikan kepentingan ekspor Eropa dan menuntut konsesi maksimal dari negara-negara benua biru.
“Langkah ini secara terbuka bertujuan melemahkan dan menundukkan Eropa. Situasi diperburuk dengan akumulasi tarif-tarif baru yang tidak dapat diterima,” kata Macron. Ia menambahkan, “Eropa kini memiliki instrumen yang sangat kuat, dan kita harus menggunakannya ketika kita tidak dihormati dan ketika aturan main tidak dihormati. Mekanisme anti-koersi adalah instrumen yang kuat dan kita tidak boleh ragu untuk menggunakannya dalam lingkungan yang keras saat ini.”
Pernyataan Macron muncul menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump pada 17 Januari bahwa Washington akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari mendatang. Tarif ini bahkan akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni 2026, kecuali AS berhasil memperoleh Greenland.
Selain itu, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 200 persen terhadap anggur dan sampanye Prancis jika Paris menolak undangan AS untuk bergabung dalam inisiatif pimpinan Washington terkait Gaza. Trump menegaskan, langkah tersebut bertujuan memaksa Prancis menyetujui usulannya.
Pekan lalu, Trump mengumumkan pembentukan “Dewan Perdamaian” untuk Gaza, yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, serta Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.
Kondisi ini menandai ketegangan baru dalam hubungan dagang antara Eropa dan Amerika Serikat, serta menegaskan pentingnya strategi perlindungan ekonomi Eropa di tengah tekanan global. [ham]




