telusur.co.id - Smartphone Festival pada Sabtu (27/8/22) di benteng Oranje Ternate seolah mengindikasikan harapan baik bagi masa depan para penggiat dunia perfilman Maluku Utara. Hal tersebut nampak dari ribuan peserta yang hadir memenuhi Taman Film Benteng Oranje, Ternate.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan, berdasarkan survei pada tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 210 juta penduduk Indonesia atau 77,02% dari seluruh populasi telah menjadi pengguna internet di Indonesia. Oleh karena itu penyiapan sumber daya manusia bidang digital yang andal, produktif, dan berdaya saing menjadi kunci utama bagi terlaksananya transformasi digital nasional.

“Saat ini indeks literasi digital Indonesia berada pada tingkat 3,49 naik dari tahun sebelumnya, namun capaian ini perlu terus kita tingkatkan”, papar Menkominfo.

Setda Provinsi Maluku Utara dalam sambutannya menyampaikan, antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan ini menjadi bukti bahwa talenta anak-anak muda Maluku Utara tidak kalah dengan daerah lain. Talkshow Makin Cakap Digital dengan mengusung tema: Membangun Personal Branding Komunitas di Media Sosial yang dirangkaikan dengan Launching Smartphone Fil Festival 2022, dan pemutaran film perdana oleh komunitas Kie Raha Project dengan judul Tentang Cinta. 

Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Rizal Marsaoly mengatakan, Ternate sebagai Kota Rempah dan sekaligus menjadi hak kekayaan intelektual yang telah terdaftar dan diakui secara internasional. Ini merupakan suatu kekuatan yang selalu membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk komunitas-komunitas kreatif.

"Sebagai bentuk dukungan bagi komunitas kreatif, khususnya para sineas lokal, maka pemerintah kota Ternate akan membuat lomba film pada setiap kelurahan dengan tematik kota rempah. Sekaligus momentum perayaan hari jadi kota Ternate ke-772 tahun pada bulan Desember nanti," ucapnya.

Sementara itu, Akademisi Aikom Ternate, Abdul Djalil Djayali mengatakan, terdapat sekitar 30 persen populasi penduduk Maluku Utara merupakan pengguna digital. Jumlahnya terus meningkat sehingga sangatlah diperlukan peran orang tua dalam melakukan pengawasan dalam penggunaan layanan internet dan digital.

"Aktivitas penggunaan internet dan media digital perlu mendapat pengawasan dari pihak orang tua untuk menekan dampak bahaya. Dari sudut pandang etika digital, Indonesia sendiri berada di urutan ke-29 dari 30 negara. Realitas ini menunjukan pentingnya peningkatan kesadaran etika bagi masyarakat digital Indonesia," ucapnya.

Konten kreator Saya Khoko menjelaskan, hal penting dalam membangun branding komunitas adalah dengan merawat komitmen untuk terus eksis dan berkiprah dalam dunia digital tertentu.

"Kerja keras dan konsistensi inilah yang akan mampuh mengantarkan seseorang atau sebuah komunitas dapat mampuh bertahan dari berbagai tantangan," kata Khoko.

Project Manager Literasi Digital Maluku Utara, Thamrin Ali Ibrahim mengatakan, kunci dari branding adalah menjaga relasi hubungan emosional di antara para followernya. Oleh sebab itu, konsistensi dalam merawat hubungan emosional tanpa mengabaikan kualitas dari branding tersebut adalah hal wajib yang harus dijaga oleh setiap pribadi maupun komunitas dalam dunia digital.

"Kemampuan cakap digital, etika digital, budaya digital serta keamanan digital patut dimiliki dan disadari oleh setiap pribadi maupun komunitas dalam era transformasi dunia digital yang semakin pesat kemajuannya saat ini. Empat pilar literasi digital tersebut merupakan kuncinya, pungkas Thamrin," kata Thamrin.

Sementara itu, Project Director Literasi Digital Komunitas Maluku dan Papua, Abdi R. Sastrawinata, berharap literasi digital diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya meminimalkan dampak negatif penyalahgunaan internet. Caranya dengan meningkatkan kemampuan kognitif masyarakat melalui beragam program edukasi kecakapan literasi digital.

"Literasi digital dapat memacu individu untuk beralih dari konsumen yang pasif menjadi produsen yang aktif, baik secara individu maupun sebagai komunitas. Dengan literasi digital akan tercipta tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kreatif,” ujarnya. (Tp)