Outstanding LPBBTI, OJK Jatim Catat Pinjaman Online Naik 19,05% alias Rp11,969 Triliun - Telusur

Outstanding LPBBTI, OJK Jatim Catat Pinjaman Online Naik 19,05% alias Rp11,969 Triliun

Media Briefing - Realisasi APBN Regional Jawa Timur 2026 (s.d 31 Mei 2026)

telusur.co.id - Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jawa Timur (OJK Jatim) mencatat kinerja sektor jasa keuangan nonbank, masih menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga April 2026, outstanding Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pinjaman online mencapai Rp11,969 triliun, meningkat 19,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pinjaman online di Jatim, tumbuh 19,05%. menurut Plh. Kepala OJK Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran menjelaskan, jumlah pemberi pinjaman mencapai 408 ribu rekening atau tumbuh 36,50 persen secara tahunan. Sementara itu, jumlah peminjam tercatat 18,014 juta rekening, meningkat 17,42 persen secara tahunan.

Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP-90) tercatat sebesar 5,80 persen,” papar Horas, sapaan akrabnya pada Media Briefing 2026 di Aula Lt. 3, Kantor OJK Jatim, Surabaya. Senin, (22/6/2026). 

Pada sektor modal ventura, total penyertaan atau pembiayaan mencapai Rp1,96 triliun per Maret 2026, atau tumbuh 4,38 persen, secara tahunan. Adapun rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross, tercatat 3,89 persen.

Sementara itu, perusahaan pembiayaan membukukan total pembiayaan, sebesar Rp46,29 triliun per Maret 2026. Nilai tersebut terkoreksi 2,17 persen secara tahunan, namun masih tumbuh 1,41 persen secara year to date (ytd). NPF gross tercatat sebesar 3,92 persen, dengan jumlah kontrak pembiayaan mencapai 409.281 kontrak.

“Pembiayaan didominasi oleh pembiayaan multiguna, investasi, modal kerja, dan syariah yang disalurkan ke sektor perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, serta akomodasi dan makan minum,” ungkapnya.

Pada sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS), total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp176,50 miliar atau tumbuh 16,42 persen secara tahunan. Total aset meningkat 1,05 persen menjadi Rp274,29 miliar, sedangkan simpanan turun 1,05 persen menjadi Rp38,64 miliar.

Di pasar modal, investor Jawa Timur mencatat net buy sebesar Rp4,127 triliun secara ytd, dan Rp2,679 triliun secara month to date (mtd). Per April 2026, jumlah Single Investor Identification (SID), mencapai 2.989.513 SID. Artinya, meningkat 60,47 persen, dibandingkan tahun sebelumnya dan menempatkan Jawa Timur. Sebagai provinsi dengan jumlah investor terbesar ketiga secara nasional.

Pertumbuhan juga terjadi pada Securities Crowdfunding (SCF). Jumlah penerbit mencapai 35 pihak atau naik 12,90 persen secara tahunan. Sedangkan jumlah pemodal meningkat 7,71 persen, menjadi 8.074 pihak. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp65,79 miliar, atau tumbuh 61,66 persen.

“Mayoritas penerbit SCF, berasal dari sektor barang konsumen primer dengan 19 penerbit. Total dana terhimpun Rp26,24 miliar, atau sekitar 39,89 persen, dari keseluruhan dana yang terkumpul,” jelas Horas.

Pada industri reksa dana, jumlah nasabah institusi tumbuh 84,83 persen dan nasabah perorangan meningkat 44,74 persen. Secara tahunan per Maret 2026. Nilai penjualan reksa dana, melonjak 177,82 persen, dalam denominasi rupiah dan 627,93 persen dalam denominasi dolar Amerika Serikat.

“Sedangkan, Industri perasuransian, membukukan pendapatan premi, sebesar Rp6,79 triliun selama Januari - April 2026, naik 20,61 persen. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebanyak 81,95 persen premi berasal dari asuransi jiwa,” tambahnya.

Di sisi lain, lanjut Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK ini, total beban klaim mencapai Rp4,87 triliun atau meningkat 18,01 persen. Dengan porsi klaim asuransi jiwa mencapai 89,22 persen.

“Soal Dana Pensiun, jumlahpeserta dana pensiun tercatat sebanyak 20.020 orang. Total aset tersedia mencapai Rp4,61 triliun per April 2026 atau tumbuh 4,05% per tahun. Total investasi tercatat Rp4,48 triliun, naik 3,96%. Dengan portofolio terbesar ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2,031 triliun atau 45,34%, dari total investasi,” tutupnya. (ari)


Tinggalkan Komentar