Pakar UNAIR: Lonjakan Wisatawan Asing Tak Serta Merta Menguatkan Rupiah - Telusur

Pakar UNAIR: Lonjakan Wisatawan Asing Tak Serta Merta Menguatkan Rupiah

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D., Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Fenomena kedatangan wisatawan asing ke Indonesia belakangan ramai menjadi perbincangan di media sosial. Berbagai konten yang beredar mengaitkan lonjakan kunjungan tersebut dengan bentuk solidaritas untuk membantu memperkuat nilai tukar rupiah yang tengah mengalami tekanan.

Namun, benarkah kedatangan wisatawan asing mampu memberikan dampak signifikan terhadap penguatan mata uang nasional?

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D., menilai bahwa kunjungan wisatawan asing tidak secara langsung berpengaruh terhadap kenaikan nilai tukar rupiah. Menurutnya, penguatan rupiah memerlukan sinergi kebijakan dari pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski demikian, ia menilai momentum meningkatnya kunjungan wisatawan asing dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengangkat sektor pariwisata Indonesia yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami perlambatan.

Prof. Rossanto menilai lonjakan kedatangan warga negara asing lebih didorong oleh faktor wisata dibandingkan keinginan membantu perekonomian Indonesia.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang disebut mencapai hampir 30 persen sejak Januari 2025 membuat daya beli mata uang asing meningkat. Kondisi tersebut memungkinkan wisatawan memperoleh nilai tukar yang lebih menguntungkan ketika berkunjung ke Indonesia.

Selain itu, kemudahan mobilitas antarnegara ASEAN melalui kebijakan bebas visa, bertepatan dengan musim liburan sekolah pada Mei hingga Juni, turut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan. Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah situasi geopolitik di sejumlah kawasan seperti Eropa dan Timur Tengah yang masih belum stabil sehingga mendorong wisatawan memilih destinasi yang lebih dekat dan aman.

“Motivasi utama mereka bukan karena mereka ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata,” tegasnya.

Kendati demikian, Guru Besar Ekonomi Internasional UNAIR itu mengakui bahwa sektor pariwisata tetap memberikan kontribusi terhadap masuknya devisa yang pada akhirnya dapat membantu stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, kontribusi tersebut dinilai masih relatif terbatas dibanding kebutuhan pasar valuta asing. Sebagai ilustrasi, satu juta wisatawan yang masing-masing membelanjakan 1.000 dolar Amerika Serikat hanya akan menghasilkan sekitar 1 miliar dolar AS. Nilai tersebut masih jauh dari kebutuhan transaksi di pasar valuta asing nasional.

Karena itu, Prof. Rossanto menilai momentum meningkatnya kunjungan wisatawan asing sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat promosi destinasi unggulan Indonesia seperti Mandalika, Labuan Bajo, dan Raja Ampat.

“Seperti Malaysia, dengan promosi konsisten ‘Malaysia Truly Asia’ berhasil menarik 44 juta wisatawan. Contoh yang layak diadopsi Indonesia,” ungkap Prof. Rossanto.

Menurut Prof. Rossanto, penguatan nilai tukar rupiah pada dasarnya lebih ditentukan oleh kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi dibandingkan sektor pariwisata semata.

Ia menjelaskan, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga secara bertahap dari 4,75 persen menjadi 5,5 persen guna menarik aliran modal asing (capital inflow). Dalam perspektif ekonomi, tingkat bunga yang lebih tinggi memberikan insentif bagi investor untuk menempatkan dananya di Indonesia.

Sebagai contoh, investor yang menanamkan modal sebesar 1 miliar dolar AS berpotensi memperoleh keuntungan sekitar 50 juta dolar AS dari bunga sebesar 5 persen. Kondisi tersebut dinilai lebih menarik dibandingkan menempatkan dana di negara dengan tingkat pengembalian yang lebih rendah.

Selain kebijakan suku bunga, intervensi di pasar valuta asing juga menjadi instrumen yang dapat mendukung stabilitas dan penguatan rupiah.

Dari sisi fiskal, pemerintah turut berupaya menambah pasokan dolar di pasar melalui penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS. Sementara itu, Danantara juga disebut berkontribusi melalui penerbitan obligasi yang permintaannya mencapai sekitar 5 miliar dolar AS.

Menurut Prof. Rossanto, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal tersebut merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Sementara itu, kontribusi dari kunjungan wisatawan asing tetap ada, tetapi dalam skala yang relatif lebih kecil.

Dengan demikian, lonjakan wisatawan asing yang terjadi saat ini lebih tepat dipandang sebagai peluang untuk mendorong sektor pariwisata nasional daripada sebagai faktor utama yang mampu mengangkat nilai tukar rupiah secara signifikan.


Tinggalkan Komentar