Reset Hidup Kita, Maka yang Lemah Menjadi Kuat - Telusur

Reset Hidup Kita, Maka yang Lemah Menjadi Kuat


Telusur.co.idOleh : Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.

Kalau HP lemot, kita reset.
Aplikasi terlalu banyak. Memori penuh. Sistem berat.
Setelah di-reset?
Ringan. Cepat. Responsif.

Hidup juga begitu.
Kadang kita “lemot”.
Banyak beban. Banyak pikiran. Banyak ego.
Merasa kuat sendiri.
Merasa mampu sendiri.
Padahal, itu yang membuat berat.

Maka hidup perlu di-reset.
Reset dari merasa punya daya.
Reset dari merasa punya kekuatan.

Kembali ke Satu Titik Kekuatan

La haula wa la quwwata illa billah. Kalimat pendek. Maknanya dalam. Bukan sekadar dzikir, tapi cara kerja hidup. Haula itu daya. Quwwah itu kekuatan. Kita sering merasa punya dua-duanya. Padahal, hanya dipinjamkan.

Semakin dekat kepada Allah, semakin terasa kecil diri ini. Bukan minder, tapi sadar posisi. Seperti sistem kontrol. Ada input, ada proses, ada output. Kita sering merasa kita adalah “processor”. Padahal, kita hanya “terminal”.

Ilmu itu sensor, menangkap data. Akal itu prosesor, mengolah logika. Tubuh itu aktuator, menjalankan aksi. Tapi sumber energi? sumber keputusan akhir? bukan di kita. Kalau sistem tidak terhubung ke pusat, data bisa salah, proses bisa bias, output bisa keliru.

La haula, tidak ada daya. Artinya bahkan memulai pun kita tidak mampu sendiri. Wa la quwwata, tidak ada kekuatan. Artinya menyelesaikan pun bukan karena kita.
Illa billah, kecuali Allah. Maka doa itu bukan pelengkap. Doa itu “power supply”. Tanpa itu, sistem bisa berjalan, tapi tidak bernilai.

Kita sering mengandalkan otak, pengalaman, strategi. Itu penting, tapi belum cukup. Seperti algoritma tanpa data yang benar. Seperti mesin tanpa listrik. Berjalan, tapi tidak optimal. Karenanya, setiap aktivitas kita awali dengan doa. Bukan formalitas, tapi memastikan koneksi.

Mau memimpin, sertakan Allah. Mau mencari rezeki, sertakan Allah. Mau mengambil keputusan, sertakan Allah. Jangan hanya melibatkan pikiran, tapi libatkan langit.

Kita berserah bukan berarti pasif. Kita tetap ikhtiar, tapi sadar hasil bukan milik kita. Seperti menanam. Kita siapkan tanah, tanam benih, menyiram. Tapi yang menumbuhkan? bukan kita.

Na’udzubillah, kalau kita merasa cukup dengan diri, cukup dengan ilmu, cukup dengan harta atau jabatan. Itu awal dari “disconnect”. Dan ketika terputus, semua terlihat ada, tapi "kosong makna". Maka kembalikan ke titik awal: La haula wa la quwwata illa billah.

Tujuan kita bukan sekadar sukses, tapi sukses yang berkah. Bukan sekadar tercapai, tapi diridhai. Karena ketika Allah dilibatkan, hasilnya bukan hanya besar, tapi nembahagiakan.

Oleh-oleh Ramadan

Semoga “hasil” Ramadan selama sebulan kemarin benar-benar menjadi power supply bagi kita. Dan di bulan Syawal ini, energi itu tidak turun, justru meningkat. Syawal adalah fase akselerasi. Energi yang kuat untuk melangkah lebih tinggi.

Setelah kita “di-charge” di Ramadan, kita dilengkapi dengan satu hal penting, hati yang bersih. Hati yang mampu mengikhlaskan kesalahan saudara-saudara kita. Dan hati yang lapang untuk meminta maaf atas kesalahan kita.

Di situlah kekuatan sebenarnya. Bukan sekadar energi fisik, tapi energi ruhani. Semoga kita terus terhubung. Tetap dalam “illa billah”.

*Penulis adalah Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Alumnus ITS93 Teknik Elektro, dan Penggagas Ekowisata Mangrove bersama masyarakat Gunung Anyar Tambak, Surabaya pada tahun 2010.


Tinggalkan Komentar