telusur.co.id, Perkembangan dunia digital mengalami peningkatan yang sangat pesat, tak terkecuali dunia digital di sektor permainan anak dan remaja.
Tak hanya anak-anak dan remaja perkotaan, bahkan, diberbagai pelosok negeri, anak-anak dan para remaja pun kini sudah tidak asing dengan game online yang ada gawainya.
Para orang tua pun tentunya harus memiliki ilmu dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat memandu anak-anak dan remaja untuk tidak terjebak efek yang merugikan.
Adanya bakat dan minat para generasi muda terhadap penggunaan game online, hendaknya harus diarahkan ke jalur yang baik, seperti meraih prestasi di bidang e-sports dan lainnya.
Selain itu, para orang tua, juga harus melakukan mitigasi dampak negatif kecanduan game online kepada anak-anak dan remaja.
Sekarang ini, Anak-anak, terutama remaja yang mungkin tidak puas dengan kehidupannya, kerap terpaku dengan dunia game. Hal ini dikarenakan, dia bisa menciptakan sendiri dunia sebagaimana yang ia inginkan atau dambakan.
"Game online menawarkan pelarian dari realitas dunia dan aspek sosial. Beberapa game online dapat membantu anak-anak dan remaja merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas, meskipun maya," kata Muhammad Iqbal, Ph.D, founder sekaligus CEO Rumah Konseling dalam seminar bertajuk "Game Online : Madu atau Racun Bagi Anak dan Remaja?", yang diadakan oleh Sikumbang Tenabang dan Seal Institute, dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional di Selasar Blok G Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/07/2022).
Remaja, kata Iqbal, termasuk ke dalam kelompok usia yang rentan kecanduan Internet. "Karena rasa ingin tahunya yang sangat besar dan bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku masih dalam proses perkembangan," ujarnya.
Iqbal mencontohkan sebagian besar klien yang ditanganinya mengalami permasalahan adiksi terhadap media sosial, online grooming, cybersex/cyberporn, belanja online, judi, dan game online.
Sebaliknya, pemerintah berpikir game online tidak selamanya negatif. Apalagi di PON XX di Papua pada 2021, pemerintah memasukkan e-sport sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.
E-sports merupakan bidang olahraga yang menggunakan game online sebagai bidang kompetitif dan dapat dikategorikan sebagai olahraga pikiran (mind-sport), ke dalam cabang olahraga.
Saat ini, bahkan, pemerintah sedang menggarap kebijakan untuk mendukung perkembangan dan promosi industri game dan E-Sport di Indonesia.
*Game Online Topang Pertumbuhan Ekonomi Kreatif*
Ekonomi kreatif menjadi sektor yang paling terhantam Covid-19 selama 2020. Namun, terdapat beberapa subsektor yang mampu menopang pertumbuhan sektor tersebut, di antaranya yakni pengembang game online.
Industri game menyumbang Rp 24,88 triliun atau sekitar 2,19% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia di 2020. Bahkan, industri game yang masuk ke dalam program prioritas nasional 2021, menempati posisi ketujuh penyumbang terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif Indonesia.
"Dari sisi kami (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) game online sangat positif karena menyumbang pemasukan bagi negara dan membuka peluang profesi baru" kata Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Administratif Jakarta Pusat, Shinta Nindyawati.
"Ada profesi atlet e-sports, pelatih, komentator, analis pertandingan, content creator, dan manajer tim," sambung Shinta Nindyawati.
Atas hal itu, Pemerintah pun kini mewacanakan e-sports atau olahraga elektronik masuk ke dalam kegiatan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah, mulai dari SMP, SMA, dan SMK.
E-sport merupakan bidang olahraga yang menggunakan game online sebagai bidang kompetitif dan dapat dikategorikan sebagai olahraga pikiran (mind-sport).
"Dinas pendidikan akan bekerjasama dengan Asosiasi E-Sport DKI Jakarta untuk diterapkan sebagai ekstra kurikuler di sekolah-sekolah yang akan dijadikan pilot project di DKI Jakarta," ujar Kepala Seksi Kelembagaan dan Sumber Belajar Bidang SMP dan SMA, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Salikun.
Senada dengan Shinta, Salikun berpendapat bahwa kehadiran game online secara positif bisa melahirkan profesi baru.
"Apabila diawasi secara benar, bermain games dapat menciptakan kesenangan, berdampak positif untuk perkembangan dan kemajuan anak di tengah kecanggihan teknologi," tutur Salikun.
Selain itu, kata Salikun, bermain game dapat mengantar anak meraih prestasi di bidang olahraga.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Betty Purwandari, Ph.D, mengatakan bahwa mereka yang kecanduan game ibarat tawanan yang terikat seluruh tubuhnya di kursi tanpa mampu memberikan perlawanan.
Sebagai seorang ahli komputer, ia mengakui pembuat game berupaya memproduksi game-game yang menarik dan membuat betah yang memainkan. Oleh sebab itu, kata dia, orangtua juga harus menjadi tauladan bagi anak.
"Apakah orangtua di negara kita tidak kecanduan hape (handphone)?" kata Betty, yang merupakan salah satu mentor tim Makara Tech untuk bidang rekayasa perangkat lunak dan teknologi informasi dalam ajang dunia Teknologi Imagine Cup 2022. Dalam ajang dunia ini, tiga mahasiswanya menjadi finalis.
"Orangtua harus mengenali dan menyelami keunikan anak-anaknya dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama," kata Betty.
Sama dengan Betty, Ketua Sikumbang Tenabang, yang menjadi ketua penyelenggara acara webinar ini, Roni Adi mengibaratkan game online seperti pisau bermata dua. Satu sisi memiliki sisi positif dan sisi lainnnya yakni negatif.
Untuk itu, Roni berupaya mendorong, agar penyaluran bakat dan minat generasi muda terhadap game online ini menjadi bidang olahraga e-sport yang memiliki jalur prestasi dan jenjang karir menjanjikan di masa depan.
"Sambil di sisi lain kita terus melakukan edukasi publik terutama kepada orang tua dan anak-anak untuk melakukan mitigasi dampak negatif kecanduan game online yang membahayakan kesehatan mental penggunanya, terutama bagi anak dan remaja usia sekolah," kata Roni.
Sekedar informasi, Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sikumbang Tenabang bekerja sama dengan SEAL Institute dan didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Lembaga Studi Islam Äl-Awfiya dan Tanah Abang Media.
Diketahui, SEAL Institute merupakan lembaga independen non-profit yang bekerja untuk membangun kesadaran kolektif sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan pentingnya kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan yang berkelanjutan.



