telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membagikan cuitan  seorang jurnalis Israel Yossi Melman terkait serangan yang menewaskan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh-Mahavadi.

Dalam cuitan itu Melman menyebut bahwa Fakhrizadeh adalah “kepala program militer rahasia Iran, dan sudah bertahun-tahun diincar oleh Mossad”.

“Kematiannya merupakan pukulan psikologis dan profesional bagi Iran,” tambahnya dalam cuitannya.

Surat kabar Mehr News milik Iran menyebutkan bahwa dengan meretweet cuitan itu Trump secara implisit mengkonfirmasi keterlibatan dinas rahasia Israel, Mossad, dalam pembunuhan Fakhrizadeh.

Fakhrizadeh  tewas diserang oleh sekelompok orang tak dikenal ketika dia dan sejumlah pengawalnya sedang dalam perjalanan dengan mengendarai mobil di daerah Damavand, provinsi Teheran, Jumat (27/11/20) sore.

Surat kabar New York Times (NYT) mengutip pernyataan seorang pejabat pemerintah dan  dua pejabat intelijen AS bahwa Israel berada di balik pembunuhan Fakhrizadeh

NYT menyatakan tidak jelas seberapa jauh AS mengetahui ihwal seragan teror itu sebelumnya, namun Israel merupakan sekutu terdekat AS dan telah lama terlibat kegiatan berbagi informasi intelijen dengannya mengenai Iran.

Surat kabar ini juga menyebutkan bahwa Gedung Putih dan dinas rahasia AS, CIA, menolak berkomentar mengenai serangan teror tersebut.

Sementara itu, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan kepada segenap pihak agar menahan diri dan menghindari langkah apapun yang dapat memicu eskalasi menyusul terbunuhnya Fakhrizadeh.

Juru bicara Guteres, Farhan Haq mengatakan, pihaknya telah menyimak laporan-laporan mengenai pembunuhan ilmuwan nuklir Iran di dekat Teheran hari ini.

"Kami menyerukan penahanan diri dan keharusan menghindari langkah apapun yang akan menyebabkan eskalasi ketegangan di kawasan. [Tp]