Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

by Arianto Deni |
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Foto: Istimewa.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendorong penguatan ekosistem kewirausahaan di Jawa Timur melalui Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026.

Kegiatan yang mengusung tema ā€œBerani Mulai, Bertumbuh, Siap Berdampakā€ tersebut berlangsung di Gedung Pusat Robotika ITS, Kamis (23/9/2026). Acara ini mempertemukan wirausaha binaan dengan sejumlah lembaga mitra dan dihadiri langsung Menteri UMKM Maman Abdurrahman.

Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 digelar di tengah upaya meningkatkan rasio kewirausahaan dan daya saing UMKM di Indonesia. Pemerintah menilai penguatan ekosistem usaha diperlukan agar pelaku UMKM tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga berkembang dan menjadi usaha yang mandiri.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan salah satu fokus pemerintah adalah mempercepat transformasi tenant binaan menjadi usaha mandiri yang mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

ā€œHal tersebut menjadi fokus kami (Kementerian UMKM, red) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pengentasan kemiskinan,ā€ ungkap Maman.

Maman juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi berbagai inovasi yang lahir dari perguruan tinggi. Menurutnya, tidak sedikit inovasi kampus yang berhenti pada tahap prototipe dan belum berkembang menjadi produk komersial.

Ia menilai inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi perlu mendapatkan dukungan agar dapat memiliki prospek bisnis dan masuk ke pasar.

ā€œPerlu juga dilakukan optimalisasi peran lembaga inkubator guna memantau, mengevaluasi, serta memberdayakan perusahaan rintisan (startup) dan UMKM potensial di berbagai daerah,ā€ ujarnya.

Untuk memastikan proses pembinaan berjalan secara terukur, Maman menyampaikan rencana pembentukan komite monitoring khusus di bawah Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.

Selain penguatan pembinaan, pemerintah juga berupaya memperkuat perlindungan terhadap pasar domestik agar produk UMKM memiliki ruang yang lebih besar di pasar dalam negeri.

ā€œPerlindungan pasar domestik juga kami perketat agar produk lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,ā€ imbuh Maman.

Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MScEng., PhD, mengatakan Jawa Timur memiliki peran penting dalam perkembangan perekonomian nasional.

Menurutnya, dukungan jutaan unit usaha dan koperasi menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam memperkuat kapasitas pelaku usaha.

Dalam konteks tersebut, ITS mengambil peran melalui penguatan teknologi, inovasi, produktivitas, dan daya saing pelaku usaha.

Berbagai program kolaborasi antara ITS dan pemerintah telah dijalankan, mulai dari One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan keterampilan kewirausahaan kepada ribuan pelajar.

ā€œBeberapa di antaranya One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan ribuan pelajar dengan keterampilan wirausaha,ā€ papar Bambang.

Melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST), ITS juga aktif melakukan pembinaan terhadap puluhan perusahaan rintisan setiap tahun.

Kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah dan ITS dalam mendorong pertumbuhan UMKM yang memanfaatkan teknologi dan inovasi.

Bambang menegaskan komitmen ITS untuk terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kapasitas UMKM agar dapat menjadi bagian penting dari kemandirian ekonomi nasional.

ā€œDukungan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan industri diharapkan dapat terus bersinergi dalam menyediakan ā€˜kolam’ pasar yang luas bagi para wirausahawan baru,ā€ tuturnya.

Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 juga diisi dengan sejumlah kegiatan, mulai dari lokakarya, pameran produk inovasi, hingga sesi business pitching.

Dua usaha rintisan mahasiswa ITS yang mendapatkan pembinaan melalui Inkubator Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS turut mempresentasikan model bisnis dan produk mereka. Keduanya adalah Vityuu dan IncludeVision.

Vityuu menawarkan produk sweet block spray berbahan dasar Gymnema sylvestre. Produk tersebut diposisikan sebagai solusi herbal untuk membantu konsumen mengurangi ketergantungan terhadap rasa manis.

Vityuu dikembangkan tiga mahasiswa Departemen Manajemen Bisnis ITS, yakni Muhammad Nadhif Ikmalsyah, Kevin Ananta Marga, dan Naila Zanuba Mustikaningrum.

Ketiganya mengembangkan strategi pemasaran digital sekaligus membangun ekosistem yang mendukung program pengurangan konsumsi gula secara berkelanjutan.

Sementara itu, IncludeVision menawarkan solusi berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk mendukung efisiensi operasional industri.

Platform tersebut dikembangkan oleh dua mahasiswa Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC), yakni Singgih Ardiansyah dari Departemen Teknik Komputer dan Raul Ilma Rajasa dari Departemen Teknik Informatika.

IncludeVision dirancang untuk mengolah rekaman kamera pengawas atau CCTV menjadi data yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan fasilitas. Berdasarkan keterangan dalam kegiatan tersebut, solusi itu diklaim dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional hingga 60 persen.

Selain mempertemukan pelaku usaha dengan mitra, kegiatan tersebut menyediakan empat kluster layanan bagi peserta. Layanan tersebut mencakup pembiayaan, perizinan usaha, akses pasar digital, dan inkubator.

Penyediaan layanan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha memperoleh akses yang dibutuhkan dalam mengembangkan bisnis, sekaligus mempercepat proses transformasi tenant menjadi wirausaha mandiri.

Kolaborasi ITS dan Kementerian UMKM juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Program tersebut terutama berkaitan dengan SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, penguatan kapasitas UMKM diharapkan tidak berhenti pada tahap pembinaan, tetapi berlanjut hingga pengembangan usaha, perluasan akses pasar, dan kemandirian pelaku usaha.

Komentar

Berita Terkait