Telusur.co.id - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia (PKP RI) Maruarar Sirait mengatakan program pembiayaan perumahan pemerintah tak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semata, namun turut mendapat dukungan dari berbagai sumber pendanaan.
Ara, sapaan akrabnya menyebut Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan telah mendapatkan dukungan pembiayaan sebesar Rp50 triliun. Dari program tersebut, 88 ribu rumah telah menikmati pembiayaan untuk renovasi.
"Ini dari KUR perumahan kita mendapatkan dukungan 50 triliun. 50 triliun itu sudah buat renovasi, sekarang sudah 88 ribu," kata pria yang akrab disapa Ara tersebut saat diwawancarai usai rapat .... di gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2026).
Lebih lanjut, Ara mengungkapkan bahwa pelaksanaan program KUR Perumahan menjadi salah satu terobosan karena baru pertama kali dijalankan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Selain renovasi, pembiayaan juga diberikan untuk pembelian dan pembangunan rumah. Ara menyebut masing-masing telah mencapai sekitar 9 ribu penerima, atau sekitar 18 ribu secara keseluruhan.
"Jadi itu suatu hal yang baik menurut saya," ujarnya.
Ara juga menyoroti kebijakan burden sharing dengan Bank Indonesia untuk memperkuat pembiayaan rumah subsidi. Melalui skema tersebut, target rumah subsidi ditingkatkan dari 220 ribu unit menjadi 350 ribu unit.
Tambahan 130 ribu unit rumah subsidi tersebut, kata Ara setara dengan dukungan pembiayaan sekitar 54 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 49,5 triliun dialokasikan melalui Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), sedangkan 4,5 triliun dialokasikan melalui Sarana Multigriya Finansial (SMF).
"Jadi yang pertama kali rumah subsidi itu ada peningkatan yang luar biasa dari 220 ribu unit. Selama ini paling besar itu di tahun 2023 sebesar 228 ribu. Tahun lalu itu rekor ya 278 ribu, naik 50 ribu." kata Ara.
Di kesempatan tersebut, Ara turut menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, Prabowo telah tiga kali menghadiri acara yang berkaitan dengan program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Ara menilai, Kehadiran Prabowo menunjukkan perhatian pemerintah terhadap program penyediaan rumah bagi masyarakat.
Kunjungan pertama berlangsung pada September 2025 lalu di Bogor, Jawa Barat, dalam acara akad penyerahan rumah subsidi untuk Angga, seorang pekerja office boy, sebanyak 26 ribu rumah yang menjadi bagian dari program tersebut.
Kunjungan kedua berlangsung pada Desember 2025 di Serang, Banten. Presiden menghadiri acara akad rumah subsidi bagi Wawan, mantan pengemudi ojek. Ara menyebut jumlah rumah dalam acara tersebut mencapai sekitar 50 ribu unit.
Kemudian, pada Juli 2026, Presiden kembali menghadiri acara di Jawa Tengah. Kali ini, acara berlangsung di lokasi milik Widodo, yang disebut Maruarar merupakan mantan sales yang kemudian menjadi pengembang. Dalam kesempatan itu, dilakukan akad untuk sekitar 62 ribu rumah.
Ara mengatakan pemerintah juga tengah menyiapkan agenda serupa di Jawa Timur.
"Mohon doanya 17 Desember 2026 kami menyiapkan dan sedang mengundang Bapak Presiden untuk hadir di Jawa Timur untuk 71 ribu rumah," ujarnya.
Sebelum menutup keterangannya, Ara menegaskan, perkembangan sektor perumahan tidak semestinya hanya dilihat dari besaran anggaran yang berasal dari APBN. Menurut dia, dukungan pembiayaan dari berbagai skema juga menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap hunian.
"Jadi jangan melihat hanya dari APBN ini aja, tapi juga tadi data-data yang saya sampaikan," pungkasnya.