Mahasiswa UNAIR Sabet Medali Perunggu Internasional Lewat Paving Block dari Limbah Perikanan

by Arianto Deni |
Mahasiswa UNAIR Sabet Medali Perunggu Internasional Lewat Paving Block dari Limbah Perikanan
Empat mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dalam ajang internasional MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC).

Empat mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan inovasi paving block ramah lingkungan berbahan dasar limbah perikanan. Inovasi tersebut membawa mereka meraih bronze medal atau medali perunggu dalam ajang internasional MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC).

Keempat mahasiswa tersebut yakni Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, dan Ratu Zahra Angelita dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), serta Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi UNAIR. Mereka berhasil meraih penghargaan tersebut pada Senin (28/9/2026).

MJIIX IRIC diselenggarakan oleh Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT), Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur. Kompetisi tersebut mempertemukan peserta dari berbagai jenjang, mulai dari mahasiswa S1, S2, S3 hingga praktisi dan dosen dari negara-negara Asia Tenggara.

Berawal dari Persoalan Infrastruktur

Chelsea mengatakan ide pembuatan paving block tersebut berawal dari persoalan infrastruktur jalan di sejumlah daerah Indonesia. Salah satunya kondisi jalan di Tuban yang menjadi inspirasi tim untuk mengembangkan material alternatif yang kuat sekaligus lebih ramah lingkungan.

“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” ungkap Chelsea.

Tim kemudian mengombinasikan tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan yang telah dihaluskan sebagai substitusi parsial semen. Dalam inovasi tersebut, alginat juga ditambahkan sebagai bahan perekat atau binder.

Formula tersebut memungkinkan penggunaan semen konvensional dikurangi hingga sepertiganya. Inovasi itu sekaligus memanfaatkan bahan yang selama ini berpotensi menjadi limbah dari aktivitas perikanan.

Cangkang Kerang dan Tulang Ikan Diolah

Tidak hanya mengandalkan konsep ramah lingkungan, tim mahasiswa UNAIR juga mengedepankan prinsip zero waste dan efisiensi biaya. Bahan baku utama berupa cangkang kerang dan tulang ikan diperoleh secara cuma-cuma dari pedagang perikanan di pasar lokal.

Seluruh bahan kemudian melalui proses pengolahan di laboratorium FPK UNAIR. Cangkang kerang dan tulang ikan terlebih dahulu dicuci, kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 100 derajat Celsius selama empat hingga lima jam.

Setelah kering, material dihaluskan menggunakan grinder dan selanjutnya diayak dengan ukuran 100 mesh untuk tulang ikan serta 80 mesh untuk cangkang kerang.

“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” jelas Chelsea.

Pada tahap uji coba skala laboratorium, paving block yang dikembangkan tim tersebut dilaporkan dapat mengering dan mengeras dengan padat dalam waktu sekitar tiga hari.

Bersaing dengan Mahasiswa hingga Dosen Asia Tenggara

Prestasi di ajang MJIIX IRIC menjadi pengalaman tersendiri bagi Chelsea dan tim. Mereka harus mempresentasikan karya secara langsung atau offline di Kuala Lumpur dan berhadapan dengan peserta dari berbagai jenjang pendidikan.

Tidak ada pembagian kategori berdasarkan strata pendidikan dalam kompetisi tersebut. Dengan demikian, karya mahasiswa S1 dinilai bersama penelitian yang dibawa mahasiswa magister, doktor, hingga dosen dari berbagai negara Asia Tenggara.

“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” tutur Chelsea.

Pencapaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi berbasis persoalan lokal dapat dikembangkan menjadi karya penelitian yang mampu bersaing di tingkat internasional. Pemanfaatan limbah perikanan sebagai material alternatif paving block juga membuka peluang pengembangan solusi infrastruktur yang lebih berkelanjutan.

Komentar

Berita Terkait