Akulturasi Budaya, Agama Serta Lahirnya Pujangga dan Persiapan Indonesia Merdeka - Telusur

Akulturasi Budaya, Agama Serta Lahirnya Pujangga dan Persiapan Indonesia Merdeka

Ilustrasi. Foto: Ist

telusur.co.id -

Oleh :Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya

Akulturasi adalah terjadinya pencampuran budaya dan agama tanpa harus menghilangkan budaya aslinya . Sedang kan asimilasi adalah dua kebudayaan atau lebih yang ada dilingkungan masyarakat sehingga memunculkan budaya baru , biasanya antara budaya asli dengan budaya asing . 

Sebelum budaya Hindu Budha datang diwilayah kepulauan Nusantara ini di Nusantara telah berkembang kepercayaan yang berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang dimana kepercayaan itu bersifat animisme , dinamisme dan toremisme .

Akulturasi budaya Nusantara khusus nya Jawa dengan budaya agama yang datang ke bumi Nusantara ini sangat erat, dimana saat pengaruh masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia , masyarakat kita sudah berbudaya sudah mempunyai agama walaupun belum terkodifikasi dalam aturan dogma , yang mana masih bersifat animisme dan dinamisme , menyembah ruh leluhur dengan cara nya, bahwa wujud dari akulturasi pengaruh Hindu Budha dengan kebudayaan Nusantara ini bisa dilihat dari berbagai bentuk , antara lain sebi angkasa dan seni sastra seni rupa seni ukir dan seni arsitektur bangunan , yang hingga kini masih bisa kita lihat , walau mempunyai ciri dan corak khas tersendiri yang tidak ditemukan di India maupun belahan bumi lain , yakni candi Borobudur dan Prambanan , pure Hindu di Bali , beserta rumah rumah adat nya, karya sastra , baik Kitab Kakawin Negara Kertagama maupun Kakawin Sutasoma , serta huruf Pallawa dan bahasa sansekerta , yang akhirnya tercipta huruf honocoroko , merupakan hasil akulturasi antara budaya kita di Nusantara khususnya Jawa dengan pengaruh India yang membawa agama Hindu dan Budha . 

Dengan datang nya kebudayaan India saat abad ke dua Masehi mampu mempengaruhi kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia yaitu paham animisme dan dinamisme , dengan pengaruh tersebut maka kepercayaan asli masyarakat Nusantara berakulturasi dengan agama Hindu dan Budha , yang lalu melahirkan kan agama yang punya corak yang khas ke Indonesiaan , yang tidak sama dengan yang ada di India , yang bisa kita lihat hingga saat ini yakni agama Hindu Bali. 

Demikian juga saat masuknya Islam ke Nusantara khususnya Jawa , juga terjadi akulturasi budaya dan kepercayaan , dimana yang awalnya animisme dinamisme dan toremisme tadi dilebur lagi berakulturasi dengan paham baru dari agama samawi , yang berakibat semakin beragam adanya akulturasi tersebut baik secara kebudayaan maupun secara kepercayaan dalam bidang spiritualitas , dan akibat dari akulturasi tersebut menimbulkan terbentuknya kepercayaan dan agama yang berbeda beda di Nusantara , akan tetapi mereka tetap berpegang teguh pada budaya asli , yang pengaruhnya hingga kini masih ada yakni kepercayaan animisme dinamisme tadi , yang justru hal tersebut merupakan tali pengikat , simpul dari pada persatuan , kebhinekaan di Indonesia , sebagai contoh adanya akulturasi budaya dalam hal ini , adanya selamatan kematian dari tiga hari, satu Minggu , empat puluh hari, seratus hari hingga seribu hari , suronan , sekatenan , ziarah kubur , sesajen , yang bagi masyarakat pada Nahdatul ulama masih ada dan dipertahankan sebagai bagian dari budaya leluhur yang tidak bertentangan dengan akidah agama .

Maka tidak mengherankan apabila gagasan sufi sekaligus pujangga sekaliber Raden Ngabehi Ronggo Warsito sangat dipengaruhi adanya akulturasi agama dan budaya diatas hingga beliau berbeda dalam gagasannya menyangkut keterkaitan antara Dzat , Sifat, Asma dan Af' Al yang agak mirip dengan gagasan Syech Abdul Karim Al Jili, yang tertulis dalam bukunya insan Kamil, hanya saja syeck Abdul Karim tidak menggunakan tamsil untuk menjelaskan hal tersebut karena mungkin justru hanya akan memberikan batasan dan penyerupaan antara Tuhan dan Mahluk , padahal dalam ilmu Kalam Tuhan berada diatas segala penyerupaan dimana Tuhan tidak serupa dengan suatu apapun . Dengan demikian ada beberapa kemungkinan berkaitan pendapat Ronggo Warsito , dimana 1. Ronggo Warsito mendapat pengetahuan ghaib berkaitan dengan tamsil ( pemisalan ) yang menurut nya wajib disampaikan ke masyarakat . 2. Masyarakat pada masa nya membutuhkan model penjelasan berwujud pemisalan untuk bisa memahami hakekat Tuhan yang dimaksud lebih mudah , dimana beliau sebagai seorang pujangga .agar bisa menerangkan lebih mudah .

Untuk bisa memahami dan mengetahui latar belakang dari kajian pendapat dan pendalaman spirit keagamaan dari Ronggowarsito yang dituangkan melalui sastra dalam tasawuf Jawa yang berlatar belakang Islam , dengan pondasi yang sebelum nya sudah mengajar dari pengaruh Hindu Budha, maka harus mengetahui dimana masa dan jaman Raden Ngabehi Ronggo Warsito hidup dan berkarya. 

Ronggo Warsito hidup dan besar didalam lingkungan keraton kasunanan Surakarta hingga meninggal nya , dimana saat itu terjadi perubahan besar didalam keraton dimulai dari Raja Pakubuwono IV hingga Pakubuwono IX . Pakubuwono IV yang lahir di Surakarta pada 2 September 1768 Masehi , dan meninggal pada 2 Oktober 1820 pada usia 52 tahun , merupakan raja ke tiga Kasunanan Surakarta yang dijuluki sebagai Sunan Bagus karena naik tahta dalam usia muda dan berwajah tampan dimana pada masa pemerintahannya terjadi semacam perubahan tradisi dikalangan keraton diantaranya beliau mengeluarkan beberapa kebijakan pakaian prajurit yang awalnya seperti pasukan Belanda diganti menjadi pakaian prajurit adat Jawa . Dan beliau membenci VOC terutama atas sikap residen Surakarta bernama W.A Palm yang korup . Dan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV inilah kesusastraan Jawa bernafaskan Islam benar benar mencapai jaman keemasan pada keraton Kasunanan Surakarta. Pakubuwono IV diyakini mengarang naskah Serat Wulang Reh yang berisi ajaran ajaran luhur untuk memperbaiki moral kaum bangsawan Jawa. Bahkan pujangga besar Ronggo Warsito mengakui semasa muda ia pernah belajar beberapa ilmu kesaktian / kanuragan kepada Pakubuwono IV . Hubungan hangat antara Ronggo Warsito muda dan Raja Pakubuwono IV ini akan memberikan kontribusi besar membentuk kepribadian sang Pujangga penutup khusus nya terhadap keperpihakan kepada rakyat dan cara berpikirnya cenderung memadukan antara ajaran Islam dan ajaran kejawen yang punya latar belakang Hindu Budha , yang menonjolkan sisi Islam dalam tasawuf Jawa, yang mengajarkan Budi pekerti luhur yang sesuai tasawuf Islam , dan memberikan contoh contoh tentang laku sufi dalam suluk .

Hal inilah nanti yang akan membentuk karakteristik para pemimpin pemimpin Jawa , dalam persiapan menuju Indonesia merdeka , yang mempunyai Budi pekerti luhur , dan selalu rela berkorban demi bangsa dan negaranya. Maka tidak heran rasa nasionalisme dan cara sudut pandang dalam membentuk Dasar Negara dan Hukum dasar kita ,Pancasila dan UUD 1945 , diilhami dari ajaran ajaran luhur yang telah ada di Indonesia dari para pujangga dan Raja Raja Jawa yang membentuk karakter para Negarawan agung bapak bapak dan ibu pendiri bangsa. 


Tinggalkan Komentar