Herman Khaeron: Harga BBM Nonsubsidi Jenis Pertamax Harusnya Rp20.000/Liter - Telusur

Herman Khaeron: Harga BBM Nonsubsidi Jenis Pertamax Harusnya Rp20.000/Liter

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron.Foto:Bambang Tri P

telusur.co.id -Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang terus bergerak dinamis, wacana mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyebut bahwa harga Pertamax secara keekonomian seharusnya sudah berada di kisaran Rp20.000 per liter. Namun, menurutnya, pemerintah masih menahan harga tersebut melalui skema kompensasi untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam dampak lanjutan terhadap perekonomian nasional.

Pernyataan itu disampaikan Herman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026), dengan menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi yang berlaku saat ini masih berada jauh di bawah perhitungan berbasis harga minyak internasional. Ia menyebut kebijakan penahanan harga tersebut sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

“Karena kalau menghitung dari kenaikan harga internasional semestinya memang harganya Rp20.000. Memang dalam tiga bulan terakhir ditahan dalam harga yang relatif jauh lebih rendah dan tidak berubah dari harga awal,” kata Herman.

Anggota DPR RI itu menjelaskan bahwa pemerintah masih memberikan ruang melalui kompensasi untuk BBM jenis RON 92 dan RON 95, sehingga penyesuaian harga yang terjadi di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian.

Menurutnya, sebagian BBM dengan skema floating price memang telah mengalami penyesuaian, namun kenaikannya tetap dibatasi agar tidak memicu efek lanjutan terhadap harga barang dan jasa lainnya.

Herman juga menilai bahwa meskipun terdapat penyesuaian harga hingga kisaran Rp16.000 per liter, angka tersebut masih berada di bawah level yang seharusnya jika mengikuti mekanisme pasar secara penuh. Ia menilai kebijakan tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan keberlanjutan operasional badan usaha energi.

Ia turut menyinggung kondisi keuangan badan usaha yang menurutnya tetap perlu diperhatikan di tengah kenaikan harga minyak global agar tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap operasional.


“Yang floating price sebagian sudah naik namun sebagiannya masih ditahan oleh pemerintah agar tidak membebani, tidak kemudian menurunkan daya beli masyarakat. Atau bisa juga ini akan menjadi trigger untuk meningkatkan harga-harga lainnya,” ujarnya.

“Kalaupun ada kenaikan kemarin di Rp16.000 sekian, itu memang supaya Pertamina tidak terlalu berat untuk bisa menjaga terhadap keberlangsungan usahanya,” katanya.

Lebih lanjut, Herman menegaskan bahwa BBM bersubsidi tetap dipertahankan dan pemerintah telah menyampaikan tidak ada rencana kenaikan hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kelompok masyarakat yang paling bergantung pada subsidi energi.

“Yang subsidi sampai hari ini dan sampai akhir tahun sudah disampaikan oleh pemerintah tidak akan naik,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai berupaya menyeimbangkan antara tekanan harga energi global, kondisi fiskal, dan perlindungan daya beli masyarakat. Namun demikian, ia berharap harga minyak dunia dapat kembali stabil atau menurun agar ruang penyesuaian harga BBM di dalam negeri juga lebih longgar.

Sebelumnya, pemerintah melalui PT Pertamina Patra Niaga (Persero) telah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai Rabu (10/6/2026) pukul 00.00 WIB. Pertamax tercatat naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green juga mengalami penyesuaian menjadi Rp17.000 per liter.


Adapun beberapa jenis BBM lainnya seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan harga. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga tetap dipertahankan tanpa penyesuaian harga.


Tinggalkan Komentar