telusur.co.id - Suasana khidmat dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam pelaksanaan Wisuda Periode III Tahun 2026. Momentum ini tidak hanya menjadi penanda keberhasilan akademik, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya generasi intelektual baru yang siap mengemban amanah untuk bangsa dan negara.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, lulusan Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNS, dipercaya sebagai wakil wisudawan untuk menyampaikan pidato di hadapan pimpinan universitas, senat akademik, dewan profesor, serta seluruh civitas akademika dan tamu undangan. Penunjukan ini menjadi simbol kepercayaan atas kapasitas intelektual, integritas, dan kepemimpinan yang dimilikinya.
Dalam pidatonya, Mustain Nasoha menegaskan bahwa, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian. Ia menggambarkan momen wisuda sebagai titik kebangkitan saat di mana ilmu yang diperoleh harus diwujudkan menjadi kekuatan nyata untuk membangun masyarakat, memperkuat bangsa, dan menjawab tantangan zaman.
“Wisuda adalah momentum yang istimewa, bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan untuk melangkah lebih jauh mengabdi dengan karya, memberi dengan makna, dan hadir sebagai solusi bagi negeri,” paparnya. Sabtu, (18/4/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa gelar akademik yang disandang para lulusan bukan hanya simbol prestasi, tetapi amanah besar yang harus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Ilmu pengetahuan, menurutnya, harus bergerak dari sekadar pemahaman menuju aksi, bahkan menjadi karakter yang hidup dalam setiap langkah pengabdian.
Menguatkan pesannya, ia mengutip pemikiran Albert Einstein, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.” Kutipan ini menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan sejati bukan hanya pada capaian pribadi, tetapi pada sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain dan bangsa.
Ia juga mengangkat refleksi dari Aristoteles, “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet,” sebagai gambaran bahwa setiap perjuangan dalam menempuh pendidikan adalah bagian dari proses pembentukan diri menuju kematangan dan kualitas yang lebih tinggi.
Dalam konteks kebangsaan, Mustain Nasoha mengajak seluruh lulusan untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi pelaku utama dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, berani bertindak, dan konsisten menjaga integritas.
“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi membutuhkan lebih banyak orang yang mau berbuat, berani bertanggung jawab, dan tulus mengabdi,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ia juga menekankan bahwa, peran alumni merupakan kekuatan strategis dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus bergerak, berkontribusi, dan menghadirkan karya nyata di berbagai bidang kehidupan baik melalui profesi, inovasi, maupun pengabdian sosial.
Dalam refleksinya, ia menyebut Universitas Sebelas Maret sebagai lebih dari sekadar kampus. UNS adalah tempat lahirnya karakter, integritas, dan semangat juang rumah kedua yang telah membentuk jati diri para lulusan sebagai insan intelektual yang berdaya dan bermakna.
Secara penuh haru, ia juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua, keluarga, dan seluruh civitas akademika yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang para wisudawan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan hari ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan pengorbanan yang tidak ternilai.
Menutup pidatonya, Mustain Nasoha menyampaikan komitmen bersama para wisudawan untuk terus menjaga nama baik almamater dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Ia menegaskan bahwa, alumni UNS harus hadir sebagai representasi nilai-nilai keilmuan, integritas, dan pengabdian di tengah masyarakat.
Pidato tersebut menjadi lebih dari sekadar rangkaian seremoni, tetapi sebuah seruan kebangkitan bagi generasi muda terdidik untuk mengambil peran nyata dalam membangun Indonesia. Momentum wisuda pun dimaknai sebagai awal perjalanan panjang pengabdian, di mana ilmu, nilai, dan semangat bersatu untuk menghadirkan perubahan dan kemajuan bagi negeri. (ari)



