telusur.co.id - Pemprov Jatim menegaskan, pentingnya penguatan industri pengolahan dan pengemasan sebagai strategi meningkatkan daya saing produk nasional. Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat membuka ALLPack Surabaya Expo 2026 di Grand City Convex Surabaya. Rabu, (01/7/2026).
Pameran berskala internasional ini menghadirkan beragam inovasi teknologi di bidang pengolahan, pengemasan, otomasi industri, hingga solusi logistik. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri, UMKM, investor, akademisi, dan pemerintah dalam memperkuat sektor manufaktur Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Khofifah menjelaskan bahwa, kemasan kini memiliki peran strategis, bukan sekadar membungkus produk. Menurutnya, kualitas pengemasan menjadi salah satu faktor yang menentukan nilai ekonomi sekaligus daya saing produk di pasar domestik maupun global.
“Saya sejak tahun 1992 selalu menyampaikan konsep petik, olah, kemas, jual. Nilai tambah sebuah produk justru diperoleh setelah proses pengolahan dan pengemasan. Packaging yang baik akan meningkatkan nilai jual produk petani maupun nelayan,” tegas mantan Mensos RI.
Mantan Ketua Umum PP Muslimat NU ini menguraikan, selama ini banyak komoditas pertanian maupun perikanan kehilangan nilai ekonomi karena belum didukung fasilitas pengolahan dan pengemasan yang memadai. Akibatnya, hasil panen yang melimpah sering tidak terserap pasar dan berujung menjadi limbah.
Karena itu, kata Khofifah, penyelenggaraan ALLPack Surabaya Expo 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat pengembangan industri kemasan sekaligus memperkuat rantai pasok produk nasional.
“Pengolahan dan packaging menjadi solusi agar produk kita memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, mampu bersaing di pasar ekspor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan,” ujar Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU ini.
CEO Krista Exhibitions, Daud Dharma Salim mengungkapkan, penyelenggaraan tahun ini menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya menggunakan nama ALLPack Surabaya sebagai identitas resmi pameran teknologi pengolahan dan pengemasan di Jawa Timur.
Menurut Daud, perubahan nama tersebut mencerminkan semakin luasnya cakupan pameran yang kini menjadi bagian dari jaringan Allpack Indonesia, pameran industri pengolahan dan pengemasan terbesar di Tanah Air.
Melalui Allpack Surabaya kami membawa standar pameran nasional dan internasional lebih dekat kepada pelaku industri di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur,” ujarnya.
ALLPack Surabaya Expo 2026 berlangsung selama empat hari dengan melibatkan sekitar 120 peserta dari 10 negara. Selain perusahaan nasional dan internasional, pameran juga diikuti sekitar 30 pelaku industri kecil menengah (IKM) dan UMKM dari Jawa Timur maupun berbagai daerah lainnya.
Pengunjung dapat melihat beragam inovasi mulai dari mesin pengolahan makanan dan minuman, mesin pengemasan otomatis, teknologi otomasi pabrik, material kemasan berbahan plastik, kertas, karton, kaca, aluminium, kemasan ramah lingkungan, hingga solusi logistik dan ekonomi sirkular.
Daud menguraikan, sejumlah perusahaan juga menawarkan layanan Original Equipment Manufacturing (OEM) yang memberikan peluang bagi UMKM untuk memproduksi produk dengan merek sendiri melalui dukungan fasilitas manufaktur profesional.
“Kami ingin Allpack Surabaya menjadi tempat bertemu, berkolaborasi, berinovasi, berinvestasi, dan tumbuh bersama bagi seluruh pelaku industri,” pungkas Daud, sapaan akrabnya.
Direktur Industri Kecil dan Menengah Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kementerian Perindustrian RI, Afrizal Haris menuturkan. industri kemasan telah mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya kemasan hanya berfungsi melindungi produk, kini kemasan juga dituntut memenuhi standar keamanan pangan, regulasi perdagangan, keberlanjutan lingkungan, hingga kebutuhan pasar internasional.
“Kalau dulu kemasan yang penting murah, sekarang harus memenuhi standar, mencantumkan informasi produk secara lengkap, serta menggunakan material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang,” tambah pria asli Arek Suroboyo ini.
Afrizal mengungkapkan, dalam kurun sepuluh tahun terakhir Kementerian Perindustrian telah memberikan pendampingan desain kemasan kepada 2.169 IKM serta menyalurkan bantuan cetak kemasan kepada 679 IKM di berbagai daerah.
Selain itu, Kemenperin juga mengembangkan platform digital Kemasan sebagai layanan terpadu yang menyediakan konsultasi desain, informasi regulasi, hingga peningkatan kualitas kemasan bagi pelaku usaha.
Dukungan terhadap pengembangan industri kemasan juga datang dari Indonesia Packaging Federation (IPF). Ketua IPF, Aria Susanti mengungkapkan, pertumbuhan industri kemasan terus meningkat sejalan dengan berkembangnya sektor makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, jamu, serta produk perawatan pribadi.
Dalam rangkaian pameran, IPF turut menggelar seminar bertajuk Building Circular Packaging Ecosystem in Indonesia yang membahas penguatan ekosistem kemasan berkelanjutan melalui penerapan ekonomi sirkular dan inovasi teknologi.
“Melalui penyelenggaraan ALLPack Surabaya Expo 2026, Jawa Timur diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri pengolahan dan pengemasan nasional, sekaligus menjadi pintu distribusi produk Indonesia menuju pasar internasional,” tutup Aria. (ari)



