telusur.co.id -Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung optimistis Bank Jakarta dapat melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2026. Optimisme tersebut didasarkan pada penguatan budaya kerja, profesionalisme, serta kesiapan fundamental perusahaan.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri rapat kerja Bank Jakarta di Hotel Pullman, Podomoro City, Jakarta Barat, Kamis (22/1). Menurutnya, pembangunan corporate culture menjadi fondasi utama bagi Bank Jakarta dalam mempersiapkan diri sebagai perusahaan terbuka.
Pramono menekankan bahwa budaya kerja harus dibangun sejak dini dan melekat pada seluruh insan Bank Jakarta. Corporate culture yang kuat, menurutnya akan menentukan arah, kualitas kinerja, serta daya saing perusahaan, terutama dalam menghadapi tuntutan transparansi sebagai emiten.
“Untuk menjadi bank IPO, corporate culture itu harus betul-betul dibentuk dan menjadi bagian inheren dari perusahaan,” ujar Pramono dalam keterangannya, Sabtu (24/1).
Selain budaya kerja, Pramono juga menyoroti pentingnya membangun kerja sama tim yang efektif dengan mengedepankan pola kerja yang cerdas. Ia menilai dunia perbankan menuntut ketepatan, efisiensi, serta kecermatan dalam pengambilan keputusan.
“Saya menyarankan karena ini dunia perbankan, tidak perlu terlalu work hard, tetapi harus work smart,” katanya.
Pramono menilai, teamwork yang cerdas, disiplin, dan ditopang budaya organisasi yang kuat akan mendorong perubahan pola kerja sehingga proses pengambilan keputusan di Bank Jakarta menjadi lebih transparan.
“Kalau transparansi sudah terbentuk, ruang untuk sengketa, intrik, dan kepentingan personal akan hilang dengan sendirinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pramono meminta manajemen Bank Jakarta untuk mengedepankan profesionalisme melalui peningkatan efisiensi dan pemangkasan birokrasi. Ia menegaskan bahwa birokrasi berlebihan tidak semestinya tumbuh dalam entitas bisnis karena dapat menurunkan daya saing serta kepercayaan publik.
“Kalau orang datang ke Bank Jakarta lalu melihat birokrasinya panjang, perusahaan tidak akan dianggap menjanjikan,” tegasnya.
Pramono juga menekankan bahwa kepercayaan (trust) merupakan kunci utama dalam dunia usaha. Ia berharap Bank Jakarta mampu memperluas basis nasabah dan tidak hanya bergantung pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Kalau trust sudah terbangun, nasabah utamanya bukan lagi hanya Pemprov DKI, tetapi publik,” tuturnya.
Dengan penguatan nilai teamwork, transparansi, debirokratisasi, serta kemampuan problem solving yang konsisten, Pramono optimistis Bank Jakarta dapat melantai di bursa pada tahun depan.
“Saya yakin mudah-mudahan tahun depan Bank Jakarta sudah IPO, menjadi milik publik, dipercaya publik, dan teamwork-nya semakin solid serta berorientasi memberi kontribusi bagi Jakarta,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo menyatakan kesiapan manajemen untuk menindaklanjuti arahan Gubernur DKI Jakarta, khususnya dalam memperkuat corporate culture dan mematangkan persiapan IPO.
Agus mengungkapkan, Bank Jakarta telah menyiapkan tiga inisiatif strategis yang akan dijalankan sepanjang 2026 guna memperkuat fundamental perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
“Sebagai bagian dari upaya memperkuat fundamental Bank Jakarta dan meningkatkan kepercayaan calon investor, kami menyiapkan tiga inisiatif besar strategis sepanjang 2026,” ujar Agus.
Inisiatif pertama adalah pembangunan infrastruktur teknologi informasi melalui pengembangan dua data center modern, perbaikan sistem inti perbankan, serta penguatan keamanan siber. Program ini ditargetkan rampung pada September 2026.
Inisiatif kedua mencakup pengembangan aplikasi mobile banking generasi baru yang dirancang lebih aman, cepat, dan efisien sesuai kebutuhan masyarakat Jakarta. Aplikasi tersebut ditargetkan meluncur pada Juni 2026 setelah memenuhi seluruh ketentuan regulator.
Adapun inisiatif ketiga difokuskan pada penguatan portofolio produk melalui persiapan peluncuran Kartu Kredit Bank Jakarta. Produk ini diharapkan menjadi sumber pendapatan baru sekaligus melengkapi ekosistem transaksi nasabah.




