telusur.co.id -Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membagikan kutipan dari “Diskursus tentang Kolonialisme” karya Aimé Césaire dalam sebuah unggahan di akun X-nya, seperti dilihat pada Minggu (17/5/2026).
Baghaei menyoroti kritikan terhadap peradaban Barat yang gagal mengatasi ketidakadilan mereka sendiri, dan justru menggunakan kemunafikan sebagai perlindungan.
Bahkan, Baghaei menyebut peradaban seperti itu merupakan peradaban yang sakit karena selalu memejamkan mata dari masalah pelik dunia yang muncul.
“Peradaban yang tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang diciptakannya adalah peradaban yang merosot. Peradaban yang memilih untuk menutup mata terhadap masalah-masalah krusial adalah peradaban yang sakit,” kata Bagahei.
Baghaei juga mengutip peringatan Césaire bahwa peradaban yang dibangun di atas kemunafikan pada akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk menipu dunia.
“Peradaban yang bermain-main dengan prinsip-prinsipnya adalah peradaban yang sedang sekarat,” tegas juru bicara itu.
“Semakin hari, hal itu semakin berlindung dalam kemunafikan yang semakin menjijikkan karena semakin kecil kemungkinannya untuk menipu,” tambah Baghaei.
Kantor berita Iran, Mehr News, menggambarkan bahwa pernyataan Baghaei sebagai respons atas berlanjutnya perang AS-Israel terhadap Iran yang semakin memperlihatkan keretakan meluas di dalam aliansi Barat dan memperdalam gejolak ekonomi global.
Apa yang awalnya digambarkan oleh Washington dan Tel Aviv sebagai perang yang menentukan untuk menghancurkan Iran dan memaksa menyerah secara politik, justru telah berkembang menjadi konfrontasi regional yang mahal tanpa kemenangan yang jelas di depan mata.
Meskipun berbulan-bulan dibombardir, dikenai sanksi, mendapat tekanan angkatan laut, dan diserang infrastruktur penting, Iran tetap utuh secara politik dan mampu secara militer, sambil terus menggunakan pengaruhnya atas salah satu jalur air paling strategis di dunia, Selat Hormuz.
Perang tanpa provokasi ini telah memicu kenaikan harga minyak yang pesat, gangguan pengiriman, kekhawatiran inflasi, dan langkah-langkah darurat energi di seluruh pasar global.
Sementara itu, sekutu-sekutu Eropa menunjukkan keengganan yang semakin besar untuk secara langsung bergabung dengan eskalasi militer Washington.
Bahkan, NATO dan Uni Eropa secara terbuka menolak seruan AS untuk memperluas keterlibatan angkatan laut di Hormuz, yang mencerminkan kekhawatiran akan terseret lebih dalam ke dalam perang yang semakin dipandang sebagai perang yang gegabah dan tidak berujung.



