telusur.co.id - Corps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim Amerika Serikat menghadapi kekurangan senjata strategis setelah konflik terbaru dengan Iran. Pemulihan sebagian persediaan yang menipis disebut dapat membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.
Klaim tersebut disampaikan Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi dalam pertemuan dengan perwakilan media di Isfahan, Iran, Rabu.
Dikutip dari Kantor berita IRNA, Menurut Mohebbi, konflik tersebut memperlihatkan adanya kerentanan strategis di pihak Amerika Serikat. Ia menilai Washington tidak hanya menghadapi tekanan dalam operasi militer, tetapi juga terdampak pada sektor infrastruktur dan pasokan strategis.
Mohebbi menyebut AS, yang menurutnya selama ini terbiasa menjalankan konflik di negara lain dengan membebankan biaya kepada pihak lain, kini harus menghadapi konsekuensi strategis secara langsung.
Ia bahkan mengklaim Amerika Serikat mengalami tekanan terhadap sejumlah komoditas, termasuk minyak, aluminium, dan pupuk kimia.
Iran Klaim Operasi Rudal Terus Berlanjut
Dalam aspek militer, Mohebbi mengatakan Washington sebelumnya memperkirakan persediaan rudal Iran akan semakin berkurang seiring berlangsungnya konflik.
Namun, menurut dia, perkiraan tersebut tidak sesuai dengan perkembangan di lapangan karena operasi rudal Iran disebut terus berlanjut.
Mohebbi juga mengklaim menipisnya persediaan senjata strategis Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang mendorong Washington melakukan penarikan diri.
Ia menyinggung doktrin militer AS yang selama ini mengandalkan kemampuan untuk menghadapi beberapa front secara bersamaan.
Menurut Mohebbi, munculnya ancaman baru di kawasan Pasifik Barat, termasuk potensi konflik dengan China maupun Rusia, dapat semakin membatasi kemampuan Washington untuk mempertahankan konfrontasi berkepanjangan dengan Iran.
Iran Klaim AS Mundur dalam Beberapa Tahap
Mohebbi juga menggambarkan konflik antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung dalam beberapa fase.
Ia menyebut AS terpaksa mundur dalam tiga fase konfrontasi, yang masing-masing berlangsung selama 12 hari, 40 hari, dan 17 hari, sebelum konflik kemudian bergeser ke arena perang ekonomi.
Meski berbagai lokasi di Iran disebut berhasil dideteksi dan menjadi sasaran serangan, Mohebbi mengeklaim teknologi dan operasi militer lawan gagal memecah persatuan masyarakat Iran.
Ia menilai dukungan antara masyarakat dan angkatan bersenjata Iran tetap terjaga sepanjang konflik. "Teknologi musuh gagal memecah persatuan rakyat Iran dan dukungan timbal balik antara masyarakat dan angkatan bersenjata," kata Mohebbi.
Klaim tersebut menggambarkan bagaimana Iran menilai konflik terbaru tidak hanya sebagai pertarungan kemampuan militer, tetapi juga sebagai ujian terhadap ketahanan ekonomi, infrastruktur, serta kemampuan kedua negara mempertahankan persediaan strategis.
Namun, pernyataan mengenai kondisi persediaan senjata Amerika Serikat tersebut merupakan klaim dari pejabat IRGC dan belum dengan sendirinya menjadi konfirmasi independen mengenai tingkat stok persenjataan strategis AS maupun kemampuan produksi dan pengisiannya kembali.



