telusur.co.id - Iran kembali menegaskan sikap kerasnya terkait masa depan Selat Hormuz. Ketua Dewan Penentu Kebijakan Iran, Ayatollah Sadegh Amoli Larijani, mengatakan negaranya tidak akan mundur dari jalur perairan strategis tersebut atau mengembalikannya ke kondisi seperti sebelum konflik.
Dalam pernyataan pada Minggu, Larijani menegaskan bahwa rakyat Iran dan Angkatan Bersenjata Iran tetap berada di kawasan Selat Hormuz. Ia juga menyatakan bahwa kedaulatan atas selat tersebut berada di tangan Republik Islam Iran.
“Dalam keadaan apa pun kami tidak akan mundur, dan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelumnya,” kata Larijani.
Menurut Larijani, akses pelayaran bebas di Selat Hormuz akan bergantung pada kepatuhan Amerika Serikat terhadap ketentuan yang tercantum dalam Nota Kesepahaman Islamabad.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa posisi Iran terkait salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia masih sangat tegas, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya, Larijani juga mengeklaim bahwa Amerika Serikat dan Israel telah gagal mencapai tujuan mereka dalam konflik dengan Iran.
Ia menyebut sejumlah tujuan yang menurutnya gagal diwujudkan, termasuk melemahkan sistem politik Iran, memecah persatuan nasional, menghancurkan angkatan bersenjata, serta melumpuhkan kemampuan rudal dan teknologi nuklir Iran.
Larijani juga mengecam seruan Presiden AS Donald Trump pada awal perang agar Iran menyerah sepenuhnya. Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan kesombongan para penguasa tiran pada masa lalu.
Ia bahkan menyebut Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “tokoh yang dibenci dan kriminal dalam sejarah”.
Menurut Larijani, kedua pemimpin tersebut juga gagal mengakhiri perang dalam jangka waktu yang sebelumnya mereka perkirakan.
Di tengah situasi yang disebutnya sebagai periode sulit dalam sejarah Iran, Larijani menyerukan agar masyarakat mempertahankan persatuan dan kohesi nasional.
Ia menilai perlawanan dan ketekunan menjadi elemen penting untuk menghadapi tekanan yang sedang dihadapi negaranya.
Larijani juga melontarkan tuduhan keras terhadap AS dan Israel terkait dugaan kejahatan perang. Ia menyinggung berbagai korban dan kerusakan yang disebutnya terjadi selama konflik, termasuk gugurnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, serta kematian anak-anak sekolah di Minab, Lamerd, dan sejumlah kota lainnya.
Ia juga menuduh serangan tersebut menyebabkan kerusakan terhadap warisan budaya Iran.
Mengakhiri pernyataannya, Larijani kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan dari AS dan Israel.
“Kepada para penjahat perang ini saya katakan: Bangsa Iran tidak akan menyerah, dan penindasan yang lebih besar akan merugikan kalian sendiri,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam ketegangan Iran dengan Amerika Serikat. Sikap Tehran untuk tidak kembali ke kondisi sebelumnya berpotensi membuat isu kebebasan pelayaran dan keamanan jalur energi global tetap menjadi perhatian utama.



