telusur.co.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Jumat (23/1) menyatakan bahwa 10 badan intelijen asing berada di balik insiden kerusuhan yang terjadi di Iran beberapa bulan terakhir. Pernyataan ini dipublikasikan melalui media resmi Sepah News dan menggambarkan peristiwa tersebut sebagai bagian dari “rencana Amerika Serikat dan Israel” yang gagal untuk mengganggu integritas nasional Iran.
Menurut IRGC, sebuah “ruang komando” asing dibentuk setelah konflik selama 12 hari pada Juni 2025 dengan tujuan menciptakan kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer, dan memobilisasi kelompok-kelompok yang dianggap ancaman terhadap keamanan negara. Namun, pernyataan itu tidak menyertakan bukti konkret atas tuduhan tersebut.
Sejak Juni hingga akhir Desember 2025, IRGC mengklaim telah menggagalkan rencana-rencana ini dengan menahan 735 orang yang tergabung dalam “jaringan antikeamanan”, membina 11.000 “individu rentan”, dan menyita 743 senjata ilegal.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam percakapan via telepon dengan Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus pada Kamis (22/1), menyebut kerusuhan itu sebagai “kudeta semu” yang disokong oleh AS dan Israel, menurut laporan kantor berita resmi IRNA. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Turkiye atas kebijakan non-intervensinya dalam urusan dalam negeri Iran.
Kerusuhan sendiri meletus di seluruh Iran pada Desember 2025, awalnya dipicu oleh masalah ekonomi, kemudian berkembang menjadi isu politik dan berujung pada kekerasan yang menelan korban jiwa serta merusak properti publik, termasuk masjid, gedung pemerintahan, dan bank.
Otoritas Iran menegaskan bahwa AS dan Israel memiliki peran dalam memprovokasi aksi tersebut, meski komunitas internasional belum mengonfirmasi keterlibatan langsung kedua negara. [ham]




