Legislator Sonny T. Danaparamita Dorong Pengembangan Sukun dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan - Telusur

Legislator Sonny T. Danaparamita Dorong Pengembangan Sukun dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita,

telusur.co.id - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, mendorong pengembangan tanaman sukun sebagai bagian penting dari program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Penekanan ini disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) RHL yang melibatkan masyarakat penerima Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan Bibit Produktif, hasil kolaborasi Komisi IV DPR RI dan Kementerian Kehutanan.

Sosialisasi dan Bimtek tersebut dilaksanakan sebanyak tiga kali pada 4–6 Mei 2026, dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemulihan hutan dan lahan secara berkelanjutan sekaligus mendorong pemanfaatan lahan yang produktif.

Dalam pemaparannya, Sonny menyoroti kondisi lingkungan yang kian menantang akibat meluasnya lahan kritis. Dampaknya, menurut Sonny, terlihat pada meningkatnya kejadian banjir, longsor, dan kekeringan di berbagai wilayah, yang kini dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kondisi lingkungan kita semakin rusak dan lahan kritis semakin luas. Dampaknya, banjir, longsor, dan kekeringan sering terjadi. Karena itu, masyarakat perlu hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi,” ujar Sonny di hadapan peserta Bimtek.

Ia menjelaskan bahwa RHL tidak sekadar penanaman pohon, melainkan upaya jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis lahan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaksana utama melalui pengelolaan yang berkelanjutan.

“Melalui RHL—baik KBR maupun Bibit Produktif—masyarakat adalah pelaku utama. Pemerintah dan DPR berperan mendukung dan memfasilitasi agar program ini berjalan efektif,” jelasnya.

Dalam konteks itu, Sonny secara khusus menekankan pembibitan sukun sebagai tanaman strategis yang dinilai relevan untuk rehabilitasi lahan sekaligus penguatan ketahanan pangan.

“Kami mendorong kelompok masyarakat untuk mulai membudidayakan dan membibitkan sukun. Sukun dapat menjadi makanan pendamping, bahkan alternatif pengganti beras, karena kandungan karbohidratnya hampir setara dengan nasi dan nutrisinya cukup lengkap,” katanya.

Lebih jauh, Sonny menilai sukun memiliki peluang ekonomi yang semakin terbuka di pasar global.

“Sukun kini dipandang sebagai superfood di Eropa. Permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini peluang yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan, sehingga rehabilitasi lahan tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat,” tambah Sonny.

Selain sukun, program RHL juga mendorong penanaman tanaman buah dan kayu yang disesuaikan dengan karakteristik lahan setempat. Namun Sonny menegaskan, keberhasilan rehabilitasi tidak ditentukan pada saat tanam semata, melainkan pada konsistensi perawatan dan kesinambungan pengelolaan.

“Program ini adalah upaya bersama. Keberhasilannya sangat bergantung pada perawatan. Menanam pohon adalah investasi jangka panjang—baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dalam dialog dengan peserta, Sonny—yang dikenal sebagai mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)—juga mengaitkan pelestarian lingkungan dengan nilai-nilai universal berbagai ajaran agama yang menekankan hidup yang bermanfaat bagi sesama dan alam.

Melalui rangkaian Sosialisasi dan Bimtek RHL ini, Sonny berharap pengembangan sukun dapat menjadi ikon rehabilitasi lahan yang produktif, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan bukan semata program pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif dan komitmen jangka panjang demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.


Tinggalkan Komentar