telusur.co.id - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan memperkuat program prioritas nasional Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya melalui gelaran “MTN Wave: Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pagelaran ini merangkum proses, capaian, sekaligus arah pengembangan talenta seni budaya sebagai ekosistem yang terus bertumbuh dan beresonansi dengan perkembangan zaman.
MTN merupakan program prioritas nasional yang diinisiasi Kementerian PPN/Bappenas dan mencakup bidang Riset dan Inovasi, Olahraga, serta Seni Budaya. Untuk bidang Seni Budaya, pengelolaannya dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam pidatonya menegaskan bahwa pengembangan talenta seni budaya merupakan bagian strategis pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Ia menekankan MTN Seni Budaya bukan program jangka pendek, melainkan program nasional berkelanjutan yang dijamin kebijakan negara.
“Negara hadir bukan hanya merayakan talenta, tetapi untuk merawat secara berkelanjutan, lintas sektor, lintas generasi,” ujar Fadli Zon.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi soal minimnya talenta, melainkan memperluas akses dan membangun lintasan yang adil agar setiap talenta di Nusantara memiliki kesempatan setara untuk berkembang. Karena itu, penguatan ekosistem dilakukan dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, industri, satuan pendidikan, sektor swasta, hingga mitra internasional.
“Kami ingin memastikan bahwa talenta seni budaya Indonesia tidak hanya hadir sesaat di panggung, tetapi juga bertumbuh, berdaya saing, dan berkontribusi jangka panjang bagi kebudayaan bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo menyerahkan apresiasi kepada 88 Rising, Dangdut Academy, dan Indonesian Idol atas kontribusinya dalam melahirkan talenta Indonesia yang berkiprah hingga tingkat internasional.
Apresiasi terhadap pengelolaan MTN Seni Budaya juga datang dari Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari. Ia menilai MTN sebagai contoh nyata kehadiran negara dalam membangun ekosistem, bukan sekadar menyediakan ruang. Hal senada disampaikan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, yang menyebut MTN Seni Budaya sebagai yang paling maju di antara bidang lainnya dalam program MTN.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra memaparkan bahwa sepanjang 2025, MTN Seni Budaya mencatat capaian signifikan setelah dilakukan revitalisasi skema pada pertengahan tahun.
Dalam kurun kurang dari satu tahun, MTN Seni Budaya telah menjangkau 36.990 peserta pada tahap pra-pembibitan, bekerja sama dengan 200 mitra sanggar, komunitas, festival, dan market di dalam maupun luar negeri. Sebanyak 5.711 talenta masuk dalam trajektori MTN, 208 program terlaksana bersama mitra, 116 talenta meraih rekognisi internasional, serta menjangkau 19 negara dan 58 kabupaten/kota di Indonesia.
Capaian tersebut dipresentasikan melalui MTN Wave yang dikemas dalam pertunjukan seni modern lintas disiplin. Dirancang oleh Direktur Kreatif Rangga Djoened, acara ini menampilkan talenta unggul dari lima bidang seni budaya—seni rupa, seni pertunjukan, musik, film, dan sastra—yang direpresentasikan sebagai gelombang yang bergerak bersama.
Pertunjukan utama bertajuk “Resonansa: Dari Titik Kecil Menjadi Gelombang Peradaban” turut menghadirkan instalasi karya Sigit D. Pratama, dengan Lukman Sardi sebagai narator yang merajut perjalanan talenta seni budaya Indonesia.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, termasuk jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan, perwakilan 17 kementerian/lembaga dalam gugus kerja MTN, perwakilan diplomatik negara sahabat, serta seniman dan budayawan nasional.
Melalui MTN Seni Budaya, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya menjadikan seni dan budaya bukan sekadar ekspresi, melainkan investasi sumber daya manusia jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Program ini juga selaras dengan arah kebijakan nasional dalam asta cita keempat tentang pengembangan SDM dan asta cita kedelapan yang menempatkan seni dan budaya sebagai fondasi harmoni, toleransi, dan keberagaman bangsa. [ham]



