Pemda DKI Diminta Kembalikan Fungsi CFD ke Awal - Telusur

Pemda DKI Diminta Kembalikan Fungsi CFD ke Awal


Telusur.co.id -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia merasa prihatin atas kejadian intimidasi yang dialami seorang bocah, bersama ibunya, saat Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (29/4/18).

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, seharusnya anak-anak tidak boleh diajak atau dilibatkan dalam berbau politik, termasuk mengenai dukungan terhadap pasangan calon di pemilihan umum.

“Semestinya anak tidak boleh dilibatkan dalam politik, bahkan tidak boleh juga di politisir,” kata Retno kepada telusur.co.id, Senin (30/4/18).

Hal itu, kata dia, bisa menimbulkan trauma bagi anak korban, maupun bagi anak lain yang menyaksikan intimidasi tersebut.

Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi CFD kepada aturan semula. Yaitu, peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 12 tahun 2012 tentan pelaksanaan CFD, yang hanya memperbolehkan olahraga, kesenian, kebudayaan, lingkungan hidup, dan kesehatan kegiatan yang ada di CFD.

Sebab, dengan adanya peristiwa itu, saat ini telah terjadi pergeseran makna dan tujuan CFD, yang semula merupakan ide sangat baik, yaitu mengistirahatkan udara Jakarta dari polusi, ternyata telah menjadi aktivitas public, kepentingan promosi korporasi, bahkan sekarang sudah menjadi ajang politisasi dan kepentingan politik kelompok tertentu.

“KPAI mendorong pengembalian fungsi dan ide awal CFD diberlakukan,” kata dia.

Diketahui, dalam sebuah video yang viral di media sosial, sekelompok orang berkaos #2019GantiPresiden mengintimidasi beberapa orang lain yang memakai kaos #DiaSibukKerja saat CFD di Bundaran HI. Video berdurasi dua setengah menit itu diunggah ke situs berbagi video YouTube, oleh pemilik akun Jakartanicus.

Dalam video, seorang lelaki berkaos putih #DiaSibukKerja berjalan sambil disoraki kerumunan pemakai kaos #2019GantiPresiden. Kerumunan mengipas-ngipasinya dengan duit pecahan Rp 100 ribu dan mendesak dia mengaku telah dibayar supaya mau ikut gerakan #DiaSibukKerja.

Selain terhadap lelaki itu, intimidasi serupa dialami seorang ibu dan anak lelakinya. Si ibu awalnya tidak menanggapi olok-olok dari kerumunan yang meneriaki “nasi kotak” dan “sawer”. Tapi dia marah begitu anaknya menangis ketakutan karena dikerumuni dan diteriaki. [ipk]


Tinggalkan Komentar