telusur.co.id - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah menunda pengiriman 8.000 pasukan yang akan menjalani misi perdamaian besama International Stabilization Force (ISF) di Gaza.
"Semua di hold. Di hold," kata Prasetyo usai di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Prasetyo menjelaskan, penundaan pengiriman pasukan itu dengan beragam pertimbangan. Salah satunya eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkat.
"Ya sampai batas waktu yang belum ditentukan," ujarnya.
Sebelumnya, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin memastikan, TNI akan mengirim personel secara bertahap untuk bergabung dengan International ISF dalam misi perdamaian di Gaza.
"Ya bertahap karena jumlahnya besar," kata Sjafrie saat jumpa pers di kantor Kementerian Pertahanan, Kamis (12/3).
Menurut Sjafrie, awalnya TNI sudah menyiapkan 20.000 pasukan untuk bergabung dengan ISF. Namun berdasarkan beberapa pertimbangan, TNI akhirnya hanya mengirim 8.000 pasukan.
"Ternyata negara-negara lain itu cuma ngirim berapa ratus, berapa ratus ya. Jadi kita siap 8.000, ya. Tapi yang paling penting bahwa kalau situasi tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, kita lakukan pekerjaan," jelas Sjafrie.
Hingga saat ini, Sjafrie belum bisa memastikan kapan pasukan TNI dikirim ke Gaza.
Pihaknya masih menunggu langkah dari Board of Peace (BoP) dan meredanya situasi geopolitik yang sempat memanas.
Sambil menunggu waktu pengiriman pasukan, Sjafrie memastikan TNI akan terus mempersiapkan pasukan agar siap dikirim kapanpun.
"Kesiapan kita itu juga bagian daripada siaga operasional. Biasa kalau tentara itu ada siaga bencana, ada siaga taktis, ada siaga strategis," kata Sjafrie.[Nug]



