telusur.co.id - Pengamat sepak bola, Habibie Mahabbah menilai salah satu kelemahan terbesar Portugal saat kalah dari Spanyol 0-1 adalah keputusan pelatih Roberto Martinez yang tetap mengandalkan kapten Cristiano Ronaldo sebagai ujung tombak selama pertandingan.

Menurut Habibie, strategi tersebut berbeda dengan laga sebelumnya saat Portugal menghadapi Kroasia. Pada pertandingan itu, Roberto Martinez berani menarik Cristiano Ronaldo dan memasukkan Gonçalo Ramos. Keputusan tersebut terbukti tepat karena Ramos berhasil mencetak gol kemenangan sekaligus menjadi pahlawan bagi Portugal.

"Ketika menghadapi Kroasia, pelatih berani menarik Ronaldo dan memasukkan Ramos. Hasilnya sangat positif karena Ramos mampu menjadi pembeda dan mencetak gol kemenangan. Namun saat menghadapi Spanyol justru pola permainan berubah, Ramos tak main sama sekali," papar Habibie Mahabbah kepada wartawan usai Nonton Bareng di Bilangan Utan Kayu Utara, Matraman, Jakarta Timur. Selasa, (07/7/2026) pagi.

Ia menilai pada pertandingan melawan Spanyol, Roberto Martinez kembali memprioritaskan Ronaldo di lini depan sehingga Gonçalo Ramos, yang sebelumnya tampil menentuka, tidak mendapatkan kesempatan bermain seperti saat jadi pahlawan melawan Kroasia.

"Ramos yang menjadi pahlawan di pertandingan sebelumnya dengan gol diciptakan justru tidak dimanfaatkan. Portugal tetap memprioritaskan Cristiano Ronaldo sebagai penyerang utama," sebutnya.

Habibie menilai, titik persoalan terbesar adalah keputusan membiarkan Ronaldo bermain penuh tanpa digantikan. Menurutnya, usia sang kapten sudah tidak lagi memungkinkan untuk tampil dengan intensitas tinggi selama 90 menit.

"Saat Ronaldo bermain penuh dan tidak ditarik keluar, di situlah letak masalahnya. Ronaldo di usia sekarang sudah tidak memiliki energi seperti dulu. Dulu ia mengandalkan power, kecepatan, dan ledakan dalam menyerang. Dan kekuatan itu sudah mulai berkurang Sekarang kualitas itu sudah jauh berkurang," tegasnya.

Ia juga menyoroti minimnya ancaman yang diciptakan Ronaldo sepanjang pertandingan. Meskipun sempat melepaskan dua tembakan ke arah gawang, Habibie menilai peluang tersebut tidak benar-benar membahayakan pertahanan Spanyol.

"Hampir tidak ada peluang berbahaya yang diciptakan selama pertandingan. Memang ada dua momentum atau sepakan ke arah gawang, tetapi tidak bisa disebut sebagai peluang yang benar-benar mengancam. Power Ronaldo sudah tidak seperti dahulu," bebernya.

Menurut Habibie, apabila dirinya menjadi pelatih Portugal, ia akan segera melakukan pergantian pemain dengan memasukkan penyerang yang lebih muda, memiliki tenaga, kecepatan, dan mobilitas tinggi untuk memberikan tekanan kepada lini belakang Spanyol.

"Kalau saya menjadi pelatih, saya akan segera mengganti Ronaldo dengan pemain yang lebih bertenaga, lebih cepat, dan mampu menekan pertahanan lawan. Sayangnya, keputusan itu tidak diambil oleh Roberto Martinez," tukasnya.

Selain faktor di lini depan, Habibie juga menilai cederanya bek kiri Portugal, Nuno Mendes, turut memengaruhi jalannya pertandingan.

 Setelah Mendes meninggalkan lapangan dan posisinya digantikan Nelson Semedo, pertahanan Portugal dinilai menjadi lebih mudah ditembus.

"Cederanya Mendes membuat pertahanan Portugal kehilangan keseimbangan. Setelah digantikan Nelson Semedo, sisi kiri pertahanan Portugal menjadi lebih mudah dieksploitasi," urainya.

Ia mencontohkan, bagaimana pemain muda Spanyol, Lamine Yamal, berkali-kali mampu melakukan tusukan dari sektor kanan serangan Spanyol atau sisi kiri pertahanan Portugal. Meski tidak berbuah gol, tekanan yang diberikan Yamal dinilai cukup merepotkan lini belakang Portugal.

"Kita bisa melihat bagaimana Lamine Yamal beberapa kali dengan mudah melakukan tusukan di sektor kiri pertahanan Portugal. Memang tidak menghasilkan gol, tetapi itu menunjukkan pertahanan Portugal menjadi lebih mudah ditembus setelah Mendes keluar," tutup Habibie. (ari)