telusur.co.id - Insiden penembakan pesawat di Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, memicu perhatian serius dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, menilai peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa situasi keamanan di Papua belum sepenuhnya kondusif.
“Itu menggambarkan kalau di Papua belum aman-aman banget. Jadi perlu kewaspadaan yang tinggi. Tentara kita juga perlu kewaspadaan karena bisa menyasar kepada siapa saja, termasuk tentara kita,” ujar Sarmuji di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia menegaskan bahwa pembagian peran antara aparat keamanan harus berjalan optimal. Menurutnya, kepolisian berada di garda terdepan dalam menjaga keamanan dalam negeri, dengan dukungan dari TNI pada aspek pertahanan.
“Mungkin maju terlebih dulu polisi di-back up tentara. Memang tugasnya polisi dibantu tentara untuk menciptakan rasa aman di semua wilayah Indonesia,” katanya.
Sarmuji juga menyampaikan apresiasi kepada prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas menjaga kedaulatan negara, khususnya di wilayah rawan konflik.
“Untuk mereka yang berjuang menjaga keamanan dan pertahanan kita, kita tentu berutang budi dan apresiasi pada mereka yang terpisah dari sanak keluarganya untuk menjaga keamanan,” ujarnya.
Insiden tersebut terjadi saat pesawat milik Smart Air mendarat di lapangan terbang Korowai Batu. Sebanyak 13 penumpang yang merupakan warga setempat dilaporkan selamat meski pesawat ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Peristiwa ini kembali menegaskan tantangan keamanan di sejumlah wilayah Papua, sekaligus pentingnya peningkatan kewaspadaan aparat demi menjamin keselamatan masyarakat sipil. [ham]



