telusur.co.id -Imlek tahun ini berasa berbeda bagi warga keturunan Tionghoa. Betapa tidak, di tahun malam tahun baru Imlek biasa diisi dengan kumpul keluarga besar. Namun, kali ini hal tersebut tidak lagi, disebabkan pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai.
"Malam tahun baru Imlek biasa keluarga besar kumpul, makan besar. Tapi sekarang tidak lagi karena ada Covid-19," ujar Tokoh Tionghoa, Frans Tsai, di Jakarta, Kamis (11/2/2021).
Menurut Frans Tsai yang juga Master Chi Kung ini, Covid jangan dianggap sepele, karena telah memakan korban sangat banyak di seluruh dunia. Masyarakat dan pemerintah harus kompak mengontrol penyebaran Covid. Sebab, tanpa peran serta masyarakat tidak akan sukses.
"Masalah belum beres, perlu perhatian masyarakat. Saya salut pada pemerintah telah sekuat tenaga antisipasi pandemi. Namun, masyarakat masih anggap remeh, masih banyak kumpul-kumpul. Imbas banyak tempat usaha tutup" sesalnya.
Terkait Imlek sekali lagi Frans Tsai melihat, walau tidak berkumpul tapi di medsos sangat ramai. "Saya bangga dan senang masih pada semangat," tuturnya.
Yang membuatnya salut, sudah banyak kepala daerah, menteri-menteri yang mengucapkan Imlek. Hal ini menandakan kerukuranan perbedaan sudah tidak ada lagi.
"Inikan tradisi, dan kita kedepankan Bhinneka Tunggal Ika, jangan Ikanya saja. Pemerintah Jokowi sudah makin kembali pada cita-cita Bhinneka Tunggal Ika," sambungnya.
Ia pun berterimakasih pada Presiden keempat Gus Dur, yang telah berjuang agar Imlek diterima.
"Orba dulu anggap ini pelanggaran. Tapi biarlah itu menjadi sebagai sejarah saja," tegasnya.
Di tahun baru Imlek ini Frans Tsai juga mengkritik pemerintah yang kerap kali menggunakan bahasa asing dalam melakukan sosilisasi Covid-19. Istilah new normal tak semuanya paham, untuk itu ia meminta agar sosiliasai gunakan bahasa yang dipahami semua orang.(fir)



