telusur.co.id -Meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia ke sejumlah daerah di Indonesia belakangan menjadi sorotan. Fenomena yang terlihat di berbagai kota perbatasan hingga destinasi wisata utama seperti Batam, Medan, dan Bali itu kerap dikaitkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Meski depresiasi rupiah sering dipandang sebagai indikator tekanan ekonomi, Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (UNAIR), Sarah Anabarja, S.I.P., M.Hub.Int., Ph.D., menilai fenomena tersebut juga menghadirkan peluang ekonomi yang menarik jika dilihat dari perspektif hubungan internasional.
Menurut Sarah, meningkatnya kunjungan warga Malaysia merupakan contoh nyata dari ketimpangan daya ekonomi (asymmetric economic power) yang dipengaruhi oleh kedekatan geografis dan budaya antara kedua negara. Ketika nilai rupiah melemah, nilai ringgit Malaysia menjadi relatif lebih kuat sehingga memberikan keuntungan kurs (currency advantage) yang mendorong aktivitas belanja lintas batas (cross-border shopping).
Jaringan Ketergantungan dan Efek Domino bagi Ekonomi Lokal
Sarah menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia selama ini telah terhubung melalui berbagai jaringan informal yang kuat, mulai dari aktivitas pariwisata, perdagangan lokal, hingga hubungan kekeluargaan di wilayah perbatasan.
Karena itu, pelemahan rupiah bukanlah faktor tunggal yang menyebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia, melainkan hanya menjadi pemicu yang mengaktifkan kembali kedekatan yang telah lama terjalin antara kedua negara.
Fenomena tersebut, lanjutnya, dikenal dalam studi hubungan internasional sebagai complex interdependence atau saling ketergantungan yang kompleks.
"Ketika satu saluran melemah (misalnya investasi formal), saluran lain seperti konsumsi informal justru menguat sebagai mekanisme penyeimbang alami. Ini adalah karakteristik sistem yang resilient secara struktural," ungkap Sarah.
Ia menilai, meningkatnya aktivitas belanja wisatawan Malaysia memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Uang yang dibelanjakan wisatawan mengalir langsung ke pelaku usaha kecil dan menengah, sektor perhotelan, usaha kuliner, hingga penyedia jasa transportasi lokal.
Berbeda dengan berbagai program bantuan yang sering kali memerlukan proses distribusi panjang, aktivitas ekonomi yang dihasilkan wisatawan dinilai lebih cepat dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput.
Dalam konteks regional, perbedaan nilai tukar mata uang juga dinilai mempercepat integrasi pasar informal di kawasan Asia Tenggara, bahkan sebelum berbagai kebijakan ekonomi regional diselesaikan secara formal.
Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah
Meski melihat adanya peluang besar, Sarah menilai pemerintah Indonesia masih belum optimal dalam memanfaatkan fenomena tersebut sebagai strategi ekonomi jangka panjang.
Menurutnya, pendekatan yang selama ini dilakukan masih cenderung reaktif dan belum terintegrasi antarinstansi. Ego sektoral membuat berbagai kementerian dan lembaga terkait berjalan sendiri-sendiri sehingga potensi wisata belanja lintas batas belum dikembangkan secara maksimal.
Akibatnya, Indonesia berisiko hanya dikenal sebagai destinasi murah yang diminati ketika nilai tukar rupiah sedang melemah dan ditinggalkan ketika kondisi kurs kembali normal.
"Jika pemerintah tidak segera bergerak dari mode reaktif menuju strategi proaktif, fenomena ini hanya akan menjadi berkah musiman yang menguap tanpa meninggalkan jejak struktural yang berarti bagi perekonomian nasional jangka panjang," tegasnya.
Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Sarah mendorong pemerintah melakukan berbagai langkah strategis, termasuk meningkatkan kualitas infrastruktur wisata belanja dan memperkuat kemudahan transaksi lintas negara.
Ia menilai optimalisasi sistem pembayaran digital lintas batas, seperti penggunaan QRIS antarnegara, kemudahan akses visa, serta jaminan perlindungan konsumen asing dapat menjadi langkah konkret untuk meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan regional.
Selain itu, fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi ekonomi (soft power) untuk memperkuat citra Indonesia di tingkat internasional.
Menurut Sarah, strategi tersebut perlu dibarengi dengan upaya memperluas akses produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia ke pasar Malaysia melalui kerja sama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
Dengan demikian, lonjakan kunjungan wisatawan Malaysia tidak hanya menjadi keuntungan sesaat akibat perbedaan nilai tukar mata uang, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi lokal dan diplomasi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.



