Tiket Konser Mahal Ludes Terjual, Pakar UNAIR: Bukan Indikator Daya Beli Tinggi

by Arianto Deni |
Tiket Konser Mahal Ludes Terjual, Pakar UNAIR: Bukan Indikator Daya Beli Tinggi
Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CESGI, QCRO, AIBIZ. Foto: Istimewa.

Tiket konser dan berbagai ajang hiburan berskala besar dengan harga relatif tinggi kembali menjadi perhatian menjelang akhir tahun. Sejumlah tiket bahkan dilaporkan habis terjual dalam hitungan menit meski harganya dapat melampaui upah minimum daerah.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan anggapan di tengah masyarakat bahwa cepatnya tiket konser mahal terjual menjadi tanda tingginya daya beli masyarakat Indonesia.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CESGI, QCRO, AIBIZ, mengatakan fenomena tiket konser mahal yang sold out tidak dapat dijadikan indikator kuat untuk menggambarkan daya beli masyarakat secara umum.

Fanatisme Penggemar dan Ilusi Daya Beli

Menurut Prof. Gancar, cepatnya tiket konser terjual lebih banyak dipengaruhi oleh fanatisme dan loyalitas konsumen terhadap figur atau musisi tertentu.

Kondisi tersebut membuat sebagian penggemar rela melakukan berbagai cara agar dapat memperoleh tiket, termasuk mengurangi pengeluaran lain hingga menggunakan pinjaman.

“Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket. Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol),” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR.

Menurutnya, bagi penggemar yang memiliki tingkat loyalitas tinggi, konser dapat dipandang sebagai bentuk self-reward. Terlebih, pertunjukan dari artis tertentu belum tentu dapat disaksikan kembali dalam waktu dekat.

“Bagi mereka, pertunjukkan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward),” imbuhnya.

Prof. Gancar menilai anggapan di media sosial yang menjadikan tiket konser sold out sebagai bukti bahwa kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan sedang baik perlu dilihat secara lebih hati-hati.

Ia menjelaskan, tiket konser dan hiburan sejenis termasuk dalam konsumsi kebutuhan tersier. Keputusan membeli produk atau layanan tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan kemampuan ekonomi seluruh masyarakat.

“Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” jelasnya.

Fenomena Bubble Tidak Mewakili Populasi

Dari perspektif ekonomi makro, Prof. Gancar mengatakan fenomena tiket konser mahal perlu dibedakan dari indikator seperti inflasi, tingkat pengangguran, dan indikator ekonomi lainnya.

Jumlah orang yang membeli tiket konser berharga tinggi merupakan bagian kecil dari keseluruhan populasi Indonesia. Karena itu, perilaku konsumsi kelompok tersebut tidak dapat secara langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Fenomena tersebut, menurutnya, dapat dilihat sebagai bubble effect. Kelompok yang membeli tiket konser mahal memiliki karakteristik tertentu, terutama tingkat loyalitas terhadap artis atau hiburan yang sangat tinggi.

“Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” paparnya.

Dengan demikian, tiket konser yang habis terjual menunjukkan adanya permintaan kuat dari segmen konsumen tertentu. Namun, fenomena tersebut tidak serta-merta mencerminkan kemampuan konsumsi seluruh penduduk Indonesia.

Berdampak ke Ekonomi Daerah

Meski tidak dapat dijadikan ukuran daya beli masyarakat secara umum, Prof. Gancar mengatakan konsumsi hiburan tetap dapat memberikan dampak ekonomi tertentu.

Kehadiran konser berskala besar dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi acara, termasuk sektor pariwisata, transportasi, akomodasi, kuliner, dan usaha pendukung lainnya.

Namun, dampak tersebut cenderung bersifat sporadis sehingga perlu dibedakan dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Karena itu, masyarakat tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan pribadi sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan hiburan dengan biaya tinggi.

Prof. Gancar juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara konsumsi untuk kebutuhan saat ini dan perencanaan keuangan jangka panjang.

“Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat,” pungkasnya.

Fenomena tiket konser mahal yang cepat habis pada akhirnya lebih tepat dibaca sebagai gambaran perilaku konsumsi segmen tertentu. Untuk menilai daya beli masyarakat secara lebih luas, diperlukan indikator ekonomi yang mencakup populasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Komentar

Berita Terkait