Mahasiswa FIKKIA UNAIR Presentasikan Riset Keselamatan Pendaki Kawah Ijen di Forum Internasional Belanda - Telusur

Mahasiswa FIKKIA UNAIR Presentasikan Riset Keselamatan Pendaki Kawah Ijen di Forum Internasional Belanda

Rima Palestine Salsabila berpose di depan poster penelitiannya tentang kesehatan dan keselamatan wisatawan pendaki Kawah Ijen yang dipresentasikan pada ajang ISCOMS 2026 di Belanda. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR), Rima Palestine Salsabila, berhasil membawa penelitian bidang travel medicine ke forum ilmiah internasional. Ia mempresentasikan hasil risetnya dalam International Student Congress of (Bio)Medical Sciences (ISCOMS) 2026 yang diselenggarakan di University Medical Center Groningen, Belanda, pada 1–4 Juni 2026.

Dalam forum tersebut, Rima memaparkan penelitian mengenai profil kesehatan dan manajemen keselamatan wisatawan pendaki di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi. Penelitian itu disusun bersama dr. Husada Tsalitsa Mardiansyah, dr. Ivan Rahmatullah, MPH, PhD, dan dr. Muhammad Nazmuddin, MSc.

Rima menjelaskan bahwa penelitian tersebut berawal dari kegiatan field trip dan studi lapangan yang dilakukan tim di area Paltuding, Kawah Ijen.

“Saya tidak menyangka abstrak ini bisa lolos. Awalnya saya hanya ingin mencari kesempatan untuk belajar menulis ilmiah dan menambah pengalaman, tetapi ternyata terpilih untuk sesi poster presentation di forum internasional,” ujar Rima.

Mengangkat Urgensi Travel Medicine

Ketertarikan Rima terhadap topik travel medicine muncul setelah ia melihat secara langsung berbagai risiko kesehatan yang dihadapi wisatawan saat melakukan pendakian di kawasan Kawah Ijen. Menurutnya, tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman mengenai pentingnya persiapan kesehatan sebelum mendaki.

“Indonesia memiliki banyak destinasi pendakian gunung berapi yang indah karena berada di wilayah Ring of Fire. Namun, masih banyak wisatawan yang belum memahami pentingnya persiapan kesehatan sebelum melakukan pendakian,” ujarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Rima bersama tim peneliti dan para pembimbing menyusun penelitian terkait implementasi skrining kesehatan sebelum pendakian serta konsultasi kesehatan bagi para pendaki. Melalui pengumpulan data lapangan dan diskusi intensif, tim berhasil menghasilkan abstrak yang lolos seleksi ISCOMS 2026.

Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat kesenjangan dalam akses serta penerapan informasi keselamatan bagi wisatawan pendaki.

“Temuan kami menunjukkan bahwa skrining kesehatan sebelum pendakian dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi darurat yang sebenarnya dapat dihindari,” jelas Rima.

Berdasarkan temuan tersebut, tim merekomendasikan penguatan sistem skrining kesehatan yang terintegrasi dengan perizinan pendakian. Selain itu, mereka juga mendorong pemanfaatan teknologi digital, seperti smartwatch dan point-of-care testing, serta penyediaan informasi risiko kesehatan yang lebih komprehensif bagi wisatawan.

“Saya berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan Travel Medicine di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan keselamatan wisata di destinasi alam,” tambahnya.

Belajar dari Forum Internasional

Keikutsertaan dalam ISCOMS 2026 menjadi pengalaman pertama bagi Rima dalam melakukan penelitian, menyusun poster ilmiah, sekaligus mempresentasikan hasil riset di hadapan peserta dari berbagai negara.

Ia mengaku tantangan terbesar yang dihadapi adalah rasa gugup serta keterbatasan pengalaman ketika harus berhadapan dengan mahasiswa jenjang magister dan doktoral, serta para ahli di bidang kesehatan global.

“Saya sempat sangat panik sebelum presentasi dimulai. Namun setelah mulai berbicara di depan audiens, perlahan rasa gugup itu berkurang dan saya bisa menyampaikan penelitian dengan lebih baik,” ungkapnya.

Selain mempresentasikan penelitian, Rima juga mengikuti berbagai workshop yang membahas integrasi kecerdasan buatan dalam bidang kesehatan, penelitian berkelanjutan, hingga pengembangan keterampilan klinis.

“Saya berharap pengalaman ini dapat saya bagikan kepada teman-teman di kampus dan menjadi motivasi untuk terus mengembangkan Travel Medicine di Indonesia demi meningkatkan kualitas kesehatan dan keselamatan wisata,” pungkasnya.


Tinggalkan Komentar