IHSG Babak Belur! Ditutup Anjlok 11 Persen ke Level 5.185 Imbas Sentimen MSCI

by Malik Sihite |
IHSG Babak Belur! Ditutup Anjlok 11 Persen ke Level 5.185 Imbas Sentimen MSCI
Ilustrasi IHSG anjlok. Foto: iStockphoto

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks saham domestik ditutup anjlok 678,67 poin atau setara 11,57 persen ke posisi 5.185,10, setelah tekanan jual mendominasi pergerakan pasar sepanjang hari.

Pelemahan tajam tersebut sudah terlihat sejak awal perdagangan. IHSG dibuka pada level 5.393,92, jauh di bawah posisi penutupan pada hari sebelumnya. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.404,51 sebelum terus tertekan hingga mencapai level terendah 5.185,11.

Upaya pemulihan sempat muncul pada pagi hari. IHSG mencoba bangkit dan bergerak kembali ke kisaran 5.300 sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, penguatan tersebut tidak mampu bertahan di tengah tekanan jual yang berlanjut. Indeks kembali bergerak melemah secara bertahap hingga perdagangan berakhir.

Di tengah gejolak pasar, aktivitas transaksi saham tercatat mencapai 658,27 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp26.379,63 miliar atau sekitar Rp26,4 triliun.

Salah satu sentimen yang membayangi pasar adalah rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah status klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Wacana tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi persepsi terhadap kelayakan investasi di pasar saham Indonesia, termasuk keputusan investor global dalam mengalokasikan dana ke aset domestik.

Meski demikian, perubahan klasifikasi tersebut belum diputuskan secara final. MSCI masih membuka proses konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027. Adapun keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat (16/10/2026).

Dalam penjelasannya, MSCI menilai status Indonesia sebagai pasar berkembang perlu ditinjau kembali karena sejumlah persoalan terkait kualitas dan aksesibilitas pasar masih menjadi perhatian.

Sorotan tersebut mencakup tingkat investabilitas, transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, hingga belum terlihatnya penegakan aturan yang dinilai memberikan dampak signifikan.

Selama proses konsultasi berlangsung, MSCI juga mempertahankan pembekuan terhadap sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia.

Kebijakan tersebut mencakup tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak memasukkan saham baru ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index, serta tidak menaikkan saham Indonesia ke segmen indeks yang lebih tinggi.

Situasi ini berpotensi membuat investor asing mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap pasar keuangan Indonesia. Ketidakpastian mengenai klasifikasi pasar dan kebijakan indeks dapat menjadi pertimbangan tambahan dalam menentukan strategi investasi.

Jika sentimen tersebut berujung pada penarikan dana asing dari pasar saham domestik, tekanan tidak hanya berpotensi dirasakan oleh IHSG.

Permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga dapat meningkat seiring kebutuhan konversi dana, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Editor: Risyad.

tags :
ihsg

Komentar

Berita Terkait