telusur.co.id - Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonious Benny Susetyo menyatakan, etika dalam bermedia sosial di era digitalisasi saat ini sangat penting di kedepankan dalam mendukung pengarusutamaan Pancasila. Karena dengan etika, orang bisa membedakan yang baik dan buruk.
"Ruang publik itu tidak steril, ruang publik itu tidak berarti bebas. Sebagaimana misal dalam menggunakan HP, itu ada etika nya. Karena HP itu adalah alat komunikasi bukan alat penghancur kemanusiaan dan menggunakan kaidah moral dalam penggunaaanya," kata Romo Beny, sapaan akrabnya, Kamis (31/3/22).
Romo Benny menerangkan, era digitalisasi, media pada awalnya menggunakan internet sebagai sarana surat menyurat yang digunakan untuk transaksi dan nilai ekonomis.
Ketika penggunaan ekonomis maka penggunanya menjadi diperluas dan tempat ruang waktu tidak perlu lagi. Namun, orang tidak lagi berjumpa dan tidak lagi ada persahabatan melalui perjumpaan serta semua menjadi personal.
"Yang dibahayakan dari internet adalah penyalahgunaan. Fimana marak kasus penipuan selebgram. Orang kita mudah tertipu karena mudah terkecoh karena menilai sesuatu dari yang terlihat saja tanpa mengetahui yang sebenarnya," ungkapnya.
Untuk itu, Ia mengingatkan, Indonesia sebagai bangsa yang merdeka jangan sampai dikendalikan oleh teknologi. Orang bisa kehilangan kreatifitas karena bergantung pada teknologi.
Jika tidak memiliki budaya kritis dan kemampuan menggunakan teknologi, maka akan menjadi robot dalam budaya.
"Media sosial adalah alat merajut kebersamaan dan menjga NKRI. Konten media sosial harus mengarusutamakan Pancasila,” tutupnya.[Fhr]



