Akademisi UMJ Soroti Metode Pengambilan Keputusan di Tubuh NU - Telusur

Akademisi UMJ Soroti Metode Pengambilan Keputusan di Tubuh NU

Kaprodi MIPOL FISIP UMJ Usni Hasanuddin-Foto.Yudo

telusur.co.id - Yayasan Talibuana Nusantara menggelar Focus Group Discussion (FGD) sesi kedua dengan tema “NU Masa Depan & Masa Depan NU : Sistem Pemilihan Rois’Aam dan Ketua Umum PBNU”, Jumat (6/5/2026) di Kantor Yayasan Talibuana Nusantara, Komplek Ligamas Blok G/20, Jakarta Selatan.

Hadir pada kegiatan tersebut antara lain Ketua Yayasan Talibuana Nusantara Endin AJ. Soefihara, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah, Wakil Ketua BAZNAS RI 2026-2031 Zainut Tauhid Sa’adi, Sekjen PBNU periode 2004-2009 Endang Turmudi, Tokoh NU asal Sulawesi Selatan Andi Jamaro Dulung, Andi Najmi Fuadi, Robikin Emhas dan sejumlah tokoh NU lainnya.

Kaprodi MIPOL FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Usni Hasanuddin menyebut bahwa pembahasan mengenai “NU Masa Depan” tidak hanya berbicara soal arah organisasi, tetapi juga menyentuh aspek ontologis atau dasar metode yang digunakan dalam tubuh NU.

“Kalau bicara ontologis kan bicara metodenya. Bicara metodenya seperti apa sih NU Masa Depan itu. Nah, metode ini mungkin kalau kita lihat itu ada dua ya. Ada yang kultural, ada yang politik atau mengkombinasikan keduanya,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya metode pengambilan keputusan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya terkait mekanisme pemilihan ketua umum yang dinilai terus berubah di setiap muktamar.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan organisasi lain seperti Muhammadiyah yang telah memiliki pola baku dalam mekanisme pemilihan pimpinan.

“Artinya tidak seperti Muhammadiyah yang sudah punya pakem 13 orang. Nah, itu yang menentukan.,” katanya.

Metode yang kerap berubah tersebut, lanjut Usni, dinilai dapat menjadi persoalan bagi masa depan organisasi jika tidak segera dirumuskan secara lebih konsisten dan efektif.

Karena itu, ia berharap agar forum ini dapat melahirkan gagasan maupun produk pemikiran mengenai metode pengambilan keputusan yang lebih tetap dan tidak selalu berubah di setiap muktamar.

“Bagaimana metode yang efektif. Bagaimana metode yang memang tidak selalu berubah setiap muktamar,” tuturnya.

Terkait masa depan NU, ia juga menyinggung aspek kultural NU yang dinilai memiliki kekuatan besar dan kerap dapat dimobilisasi untuk kepentingan politik. Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian penting untuk dikaji dalam membaca arah futuristik organisasi ke depan.

“Masa depannya ini futuristik juga ini. Kulturalnya yang memang bisa dimobilisasi untuk kepentingan politik,” pungkasnya.


Tinggalkan Komentar