telusur.co.id - Militer Amerika Serikat mengumumkan akan memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin (13/4), sebagai langkah lanjutan untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran setelah perundingan damai berakhir tanpa kesepakatan.
Dalam pernyataan resminya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebutkan bahwa blokade akan mencakup seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, termasuk kapal dari berbagai negara yang beroperasi di kawasan Teluk dan Teluk Oman.
Namun demikian, CENTCOM menegaskan bahwa kebebasan navigasi tetap dijaga bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran. Pernyataan ini dinilai sebagai penyesuaian dari pernyataan sebelumnya oleh Donald Trump yang sempat mengancam akan memblokade seluruh selat tersebut.
Perbedaan pernyataan ini memunculkan kebingungan di kalangan pengamat. Sejumlah pihak menilai terdapat inkonsistensi dalam kebijakan Washington terkait cakupan blokade yang sebenarnya.
Di sisi lain, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan melonjak hingga 8 persen menjadi di atas 100 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan signifikan.
Ketegangan meningkat setelah Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz sejak konflik dengan AS dan Israel pecah pada akhir Februari lalu. Jalur tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasinya.
Pemerintah Iran disebut tetap mengoperasikan kapal-kapalnya di kawasan tersebut, namun membatasi akses bagi kapal asing. Bahkan, muncul wacana penerapan sistem pungutan bagi kapal yang melintas setelah konflik mereda.
Menanggapi rencana blokade, Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan bahwa setiap kapal militer asing yang mendekat akan dianggap melanggar gencatan senjata dan berpotensi ditindak.
Blokade ini diduga dipicu oleh kegagalan perundingan damai yang berlangsung di Islamabad. Pemerintah Iran menuding pihak AS sebagai penyebab gagalnya kesepakatan, dengan alasan perubahan sikap di menit-menit akhir.
Sejumlah analis menilai situasi ini berpotensi memperpanjang konflik dan meningkatkan ketidakpastian global, terutama di sektor energi. Iran pun menyatakan siap menghadapi kemungkinan eskalasi berkepanjangan, menandakan bahwa ketegangan antara kedua negara masih jauh dari mereda. [ham]



