Banyak Dilirik Industri, SMK Forward Nusantara Depok Genjot Lahirnya Wirausaha Muda - Telusur

Banyak Dilirik Industri, SMK Forward Nusantara Depok Genjot Lahirnya Wirausaha Muda

Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono (empat kiri) berikan piala penghargaan ke siswa dengan produk wirausaha terbaik SMK Forward Nusantara.

telusur.co.id - Komitmen serius dalam membangun jiwa kewirausahaan menjadikan SMK Forward Nusantara, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Kota Depok, kian diperhitungkan dunia industri. Sekolah ini menerapkan sistem pembelajaran yang dirancang khusus agar siswa siap menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha sejak dini.

Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono menjelaskan, struktur pembelajaran di sekolahnya berbeda dari kebanyakan SMK. Seluruh materi teori diselesaikan lebih awal sehingga saat memasuki kelas 12, siswa dapat fokus pada praktik kerja dan magang di perusahaan.

“Kelas 10 menuntaskan materi kelas 10. Kelas 11 semester satu menyelesaikan materi kelas 11, dan semester dua sudah merampungkan materi kelas 12. Jadi ketika kelas 12, siswa sepenuhnya praktik di dunia kerja, menyelesaikan ujian, sekaligus menyusun laporan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (13/2/26).

Dengan pola tersebut, sebagian besar siswa kelas 12 telah terserap di berbagai perusahaan. Bahkan, permintaan magang dari industri kerap melebihi kuota yang tersedia.

“Untuk pemagangan saja kami kewalahan memenuhi permintaan. Hampir semua siswa terserap. Yang tidak magang biasanya terkendala kedisiplinan atau kompetensinya masih perlu ditingkatkan,” ungkapnya.

Tak hanya menyiapkan lulusan siap kerja, sekolah juga mengubah paradigma dari konsep lama BMW (Bekerja, Melanjutkan, Berwirausaha) menjadi BBM (Berwirausaha, Bekerja, Melanjutkan). Menurut Pramono, titik utama kini adalah mendorong siswa berani memulai usaha lebih dulu.

Sebagai bentuk dukungan, sekolah menggandeng inkubator bisnis di Jakarta selama tiga bulan pertama pembinaan. Siswa mendapatkan pelatihan live streaming, public speaking, hingga strategi pemasaran digital. Setelah itu, pembinaan dilanjutkan bersama kreator dan praktisi bisnis, Aril Kurnia, dengan pendekatan usaha yang realistis dan minim modal.

Sekolah menekankan pengembangan bisnis yang tidak bergantung pada modal besar. Siswa diajarkan memahami tiga kategori produk: komoditas, produk tren, dan produk kebutuhan spesifik yang dinilai memiliki peluang besar di pasar.

Selain itu, SMK Forward Nusantara membangun unit usaha internal sebagai laboratorium praktik. Tahun ini, seluruh siswa direncanakan magang di unit usaha milik sekolah yang bekerja sama dengan industri.

Beberapa unit yang telah disiapkan antara lain toko roti, klinik kecantikan, layanan digital printing untuk jurusan DKV, serta pengembangan server dan sistem website sekolah oleh siswa jurusan TKG. Bahkan, server sekolah telah dikembangkan sendiri oleh para siswa.

Tahap akhir program bukan sekadar penyusunan proposal atau business plan. Siswa dituntut membuktikan produknya benar-benar laku di pasaran. Mereka yang berhasil menjual produknya akan dikukuhkan sebagai wirausahawan muda sekolah.

“Keberhasilan bukan hanya pada rancangan usaha, tetapi ketika produk itu terjual. Jika sudah bisa jualan, wajib kami wisuda sebagai entrepreneur muda. Itu indikator keberhasilan kami,” tegas Pramono.

Sementara itu, Koordinator Pengawas KCD Wilayah 2, Syaikhi turut mendukung penuh program unggulan tersebut. Menurut dia, banyak SMK saat ini sudah mengenalkan usaha via online. Terutama sekolah-sekolah yang basisnya itu bisnis pemasaran.

"Itu sudah pada sukses di bisnis online. Dan ketika sukses, dia suruh mengajari adik-adik kelasnya. Di perusahaan-perusahaan. Sehingga orang tua merasa bangga kalau anak-anaknya sudah bekerja, walaupun masih sekolah, sudah bisa mendapatkan penghasilan," katanya.

KCD lanjut Syaikhi, mendorong sekolah-sekolah itu bermitra dengan perusahaan. "Sehingga lulusan SMK itu mudah terserap dari perusahaan yang sudah melaksanakan penyelenggaraan kurikulum. Misalnya kayak di dunia otomotif itu dengan Honda," ujarnya.

"Semisal membuat kurikulum bersama. Nanti gurunya dilatih sama Honda. Atau Honda ke sekolah-sekolah melaksanakan pelatihan sampai pada PKL, sampai juga pada penyerapan lulusan," pungkasnya.

 

Laporan: Malik Sihite


Tinggalkan Komentar