telusur.co.id -Pendidikan sering kali menjadi jembatan bagi seseorang untuk mengubah nasib. Hal inilah yang dibuktikan oleh Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Fishqua. Alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) ini membuktikan bahwa latar belakang ekonomi yang sederhana bukan penghalang untuk meraih puncak karier akademis sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) periode 2024–2028.
Perjalanan Mundakir tidaklah instan. Keterbatasan biaya sempat membuatnya mengubur mimpi untuk langsung mengenyam pendidikan tinggi selepas SMA.
“Karena keterbatasan biaya, maka saya tidak bisa langsung kuliah. Bahkan, saat itu bayangan kuliah saja tidak ada. Setelah lulus SMA saya langsung bekerja untuk membantu orang tua,” kenang Mundakir saat berbagi kisahnya, Jumat (30/1/2026).
Dorongan kuat dari kedua orang tuanya menjadi titik balik. Mundakir akhirnya memulai pendidikan di Akademi Keperawatan UM Surabaya. Tak puas sampai di situ, ia melanjutkan studi S1 Ilmu Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners di PSIK FK UNAIR.
Haus akan ilmu, ia kemudian menempuh jenjang S2 Keperawatan di Universitas Indonesia (UI) dan sempat memperdalam wawasan melalui short course di Hamilton College, Adelaide City, Australia. Puncaknya, pada tahun 2013, ia kembali ke rumah almamaternya untuk menempuh program S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat di FKM UNAIR dan berhasil lulus pada tahun 2017.
Kariernya di dunia pendidikan pun tumbuh secara organik. Dimulai dari asisten dosen, ia bertransformasi menjadi dosen tetap hingga akhirnya dipercaya memimpin universitas.
“Alhamdulillah, awal tahun 2005 saya diterima sebagai CPNS dosen DPK Kopertis VII Jawa Timur (sekarang LLDIKTI VII) yang ditempatkan di Universitas Muhammadiyah Surabaya hingga sekarang. Jadi status saya di UM Surabaya adalah dosen tetap PNS-DPK,” jelasnya.
Sebagai nahkoda UM Surabaya, Mundakir membawa visi besar yang ia sebut sebagai "Transformasi Keberlanjutan". Baginya, jabatan rektor adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan melalui inovasi nyata.
Ia telah menetapkan tiga pilar prioritas untuk masa kepemimpinannya: pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan unit bisnis sebagai income generating kampus, serta akselerasi program internasionalisasi.
“Saya prioritaskan pada tiga program besar, yaitu pengembangan sumber daya manusia, pengembangan bisnis sebagai income generating kampus, serta peningkatan dan pengembangan program internasionalisasi kampus,” tegas Mundakir.
Di balik kesuksesannya, Mundakir menekankan pentingnya niat yang lurus, pemahaman akan kapasitas diri, serta kemampuan berkomunikasi. Kepada para mahasiswa yang sedang berjuang, ia menitipkan pesan mendalam agar selalu menghargai kesempatan yang ada.
“Manfaatkan kesempatan menjadi mahasiswa sebaik mungkin, kembangkan kapasitas kalian, carilah ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin. Ingat, tidak semua orang seberuntung kalian,” tutupnya.



