telusur.co.id - Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Willy Aditya, menegaskan pentingnya literasi dan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terbendung. Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional dan Kelas Literasi bersama Forum Mahasiswa Madura (FORMAD) Jabodetabek yang digelar di lingkungan DPR RI, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Dalam paparannya, Willy menilai masyarakat saat ini tidak lagi sekadar menghadapi banjir informasi, melainkan telah berada dalam situasi “tsunami informasi” yang berpotensi menggerus daya kritis publik. Melimpahnya informasi, menurutnya, tidak selalu diiringi kemampuan untuk memilah, menguji, dan memverifikasi kebenaran.
“Impresi sering kali lebih dominan dibandingkan nalar. Padahal, yang kita butuhkan hari ini adalah nalar kritis dan akal sehat agar tidak mudah terjebak pada hoaks,” ujar Willy.
Willy menegaskan bahwa sejak awal berdiri, Partai NasDem membawa pesan untuk merawat akal sehat sebagaimana amanat Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Pesan tersebut, lanjutnya, kembali ditegaskan oleh Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat, bahwa di tengah inflasi informasi, akal sehat dan common sense menjadi fondasi utama dalam berdemokrasi.
Selain dialog literasi, Fraksi Partai NasDem juga menghadirkan kelas literasi yang membekali mahasiswa tidak hanya dengan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga keterampilan menulis ilmiah dan menulis populer. Menurut Willy, kemampuan menulis merupakan sarana penting untuk menjembatani realitas sosial, ilmu pengetahuan, dan arus informasi di ruang publik.
“Menulis itu soal kebiasaan. Mahasiswa perlu dilatih agar mampu mengolah fakta, data, teori, dan logika berpikir secara utuh, apalagi di ujung pendidikan mereka akan menghadapi tugas ilmiah seperti skripsi,” ungkap Ketua Koordinator Ideologi, Organisasi, dan Kaderisasi DPP Partai NasDem tersebut.
Lebih lanjut, Willy menegaskan bahwa kegiatan literasi ini merupakan langkah awal. Fraksi Partai NasDem, kata dia, membuka diri untuk kolaborasi lanjutan dengan mahasiswa dari berbagai daerah sebagai bagian dari komitmen demokrasi yang inklusif dan partisipatif.
“NasDem terbuka. Mahasiswa bisa datang, menyampaikan kritik, aspirasi, bahkan perbedaan sikap soal kebijakan. Justru itu yang kami harapkan dalam demokrasi,” paparnya.
Willy juga mengingatkan bahwa gelar akademik tidak serta-merta melahirkan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, critical thinking membutuhkan latihan yang konsisten, keberanian untuk bertanya, serta disiplin dalam memverifikasi informasi.
“Berpikir kritis itu proses yang ketat. Kita harus bertanya siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana, seperti prinsip 5W+1H dalam jurnalistik. Tanpa itu, hoaks akan selalu lebih cepat dipercaya daripada fakta,” pungkas Legislator daerah pemilihan Madura tersebut. [ham]



