telusur.co.id - Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya risiko global, termasuk dampak meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa bank sentral akan terus hadir di pasar guna meredam volatilitas dan memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah,” ujar Destry.
Ia menjelaskan, intervensi dilakukan secara tegas dan konsisten melalui berbagai instrumen, yakni transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Menurut Destry, pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan (aligned) dengan mata uang regional. Secara month-to-date (MTD), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, namun kinerjanya dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang kawasan.
Dari sisi fundamental eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang tetap kuat. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS. Selain itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang tahun 2026 mencapai Rp25,7 triliun.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati perkembangan global dan domestik serta mengoptimalkan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan nasional. [ham]



