telusur.co.id - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, mengajak kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk menggelorakan Salam Pancasila atau salam Kebangsaan.
Hal itu disampaikan Yudian saat kunjungan kerja ke Sumenep. Ia juga mendorong Pemkab Sumenep mensosialisasikan mata ajar Pendidikan Pancasila dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai Perguruan Tinggi.
"Kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mensosialisasikan mata ajar Pendidikan Pancasila," kata Yudian, dalam keterangannya, Senin (28/3/22).
Menurutnya, Pemkab Sumenep harus turut serta mengembalikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dan falsafah hidup.
"Maka dari itu, mari kita kuatkan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara," Imbaunya.
Dirinya menerangkan, dalam mata ajar Pendidikan Pancasila tersebut terdapat 75 persen dengan metode peraktek dan 35 persen teori.
"Salah satu keuntungan PP tersebut adalah Pencasila menjadi paling utama dalam mata ajarnya," paparnya.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, menyambut baik kedatangan BPIP untuk mensosialisasikan Salam Pancasila dan PP Nomor 4 tentang Standar Pendidilan Nasional.
"Kami memiliki Daerah yang luas baik darat maupun laut dengan 126 pulau kecil diantaranya 48 pulau sudah berpenghuni," kata dia.
Ia juga menjelaskan bahwa Sumenep memiliki ragam agama dan budaya. Bupati Sumenep itu menyatakan juga bahwa pembangunan keraton Sumenep menunjukkan kerukunan antar suku.
"Bangunan (keraton) ini dikerjakan oleh arsitek dari suku Tionghoa, Lauw Piango, pada tahun 1781, di masa pemerintahan Raja Abdurrahman," jelasnya.
Peranan keraton, menurut Achmad, dalam menjaga keharmonisan merupakan kelebihan dari Kabupaten Sumenep.
“Keraton Sumenep adalah bukti kerjasama dan toleransi di masyarakat yang majemuk. Penataan keraton yang mendesain tata kotanya untuk penataan suku-suku yang ada, dan bahkan penataan terhadap tempat ibadah bersebelahan,” tuturnya.
“Disini, bukan hanya orang Madura yang tinggal; ada orang Baji, Karo, Bandang, Daeng. Kami beragam di Sumenep. Bahkan, mayoritas disini hidup berdampingan dan melindungi minoritas. Kampung Arab dan Cina, hidup berdampingan,” tukasnya.[Fhr]



