telusur.co.id - Direktur Lembaga Kajian Islam dan Aswaja Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat, Jipridin, mendorong Ali Masykur Musa untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ia menilai Cak Ali, sapaan karibnya, memiliki rekam jejak panjang, baik sebagai aktivis pergerakan di tingkat nasional maupun dalam memimpin organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.
"Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum PB PMII, kemudian memiliki pengalaman memimpin badan otonom NU di level nasional," ujar Jipridin dalam keterangannya pada Jumat (21/8/2026).
Selain pengalaman sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), cak Ali juga pernah menakhodai dua badan otonom NU, yakni Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) yang masih ia jabat hingga saat ini.
Pengalaman tersebut, lanjut Jipridin, menjadi modal penting bagi seorang calon Ketua Umum PBNU. Pasalnya, kepemimpinan di NU membutuhkan figur yang tidak hanya memahami dinamika organisasi, tetapi juga mempunyai pengalaman berinteraksi dan bekerja di tingkat nasional.
"Bagi saya, yang membedakan setiap kandidat pemimpin adalah "Punya Perspektif, Orientasi, dan Konsisten lebih penting daripada sempurna. Demikian dimensi itu ada pada Cak Ali," katanya.
"Tentu yang menarik dari Cak Ali adalah kombinasi pengalamannya. Dengan memiliki pengalaman sebagai aktivis pergerakan di panggung nasional sekaligus pengalaman memimpin badan otonom NU di tingkat nasional, katanya," sambungnya.
Tambahnya lagi bahwa Ali Masykur Musa juga memiliki pengalaman sebagai anggota DPR RI dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Jipridin melihat pengalaman tersebut sebagai modal dalam memahami tata kelola kelembagaan, politik kebangsaan, serta persoalan kenegaraan.
Oleh karenanya, kombinasi antara pengalaman sebagai aktivis, pengalaman memimpin organisasi, dan pengalaman di lembaga negara membuat Cak Ali memiliki profil yang kuat untuk dipertimbangkan dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
Jipridin berharap pengalaman panjang tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi warga NU dalam melihat sosok calon pemimpin PBNU ke depan. Menurutnya, NU membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kapasitas organisasi, pengalaman nasional, serta kemampuan menjembatani kepentingan keumatan dan kebangsaan.
Dorongan Jipridin tersebut sekaligus menambah dinamika menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang. Rekam jejak dan kapasitas calon tentunya menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dari kalangan nahdliyin.
Selamat ber-Muktamar.



