telusur.co.id - Erupsi sejumlah gunung api di Indonesia mestinya membawa pembicaraan publik pada mitigasi bencana, keselamatan warga, dan penjelasan ilmiah. Namun, arah pembicaraan justru melebar hingga dugaan adanya campur tangan pihak asing.
Dalam video yang diunggah akun Instagram Telusur.co.id, muncul pernyataan yang mengaitkan aktivitas vulkanik dengan dugaan keberadaan “alat antek asing”.
Pernyataan itu sontak mengundang respons keras warganet. Bukan hanya karena menyentuh isu sensitif soal bencana, tetapi juga lantaran aktivitas gunung api yang merupakan fenomena geologi justru ditarik ke wilayah spekulasi.
Telusur.co.id menyoroti bagaimana erupsi enam gunung kemudian menyeret narasi yang tidak biasa tersebut.
Alih-alih membicarakan mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penjelasan ilmiah mengenai aktivitas gunung api, publik justru disuguhi dugaan adanya campur tangan pihak asing.
Tak sedikit warganet kemudian melontarkan sindiran.
“Alam saja sekarang kena fitnah.”
Sindiran itu seperti menggambarkan absurditas polemik yang berkembang. Ketika gunung meletus, yang mestinya dicari adalah informasi mengenai aktivitas vulkanik dan ancamannya terhadap masyarakat. Namun kali ini, “antek asing” ikut masuk ke dalam pembicaraan.
Telusur.co.id menekankan bahwa aktivitas vulkanik merupakan fenomena geologi yang dapat dijelaskan dan dipantau menggunakan instrumen kebencanaan.
Karena itu, klaim luar biasa tentu membutuhkan bukti yang juga luar biasa.
Persoalannya, dugaan mengenai campur tangan pihak asing tersebut justru dilempar ke ruang publik ketika masyarakat membutuhkan informasi yang terukur mengenai bencana.
Pada titik ini, pertanyaannya menjadi sederhana: ketika gunung sedang meletus, mana yang lebih mendesak—membaca data kebencanaan atau mencari-cari dalang di balik magma?
Narasi semacam ini semakin mengundang perhatian karena muncul dari sosok yang dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ketika pejabat atau orang di lingkar kekuasaan berbicara, publik tentu berharap yang disodorkan bukan sekadar kecurigaan, tetapi penjelasan yang dapat diuji.
Sebab, gunung api tidak membutuhkan kartu anggota politik untuk meletus.
Dan jika setiap bencana mulai dicurigai sebagai ulah “antek asing”, bukan tidak mungkin suatu hari hujan deras pun ikut diminta menunjukkan paspor.



